#PandemiCovid-19#VirusKorona

Jurus Kungfu Boy

( kata)
Jurus Kungfu Boy
Dok.MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1937-jurus-kungfu-boy

Oleh: Abdul Kohar

Dewan Redaksi Media Group

PARA penggemar komik silat banyak yang sudah mafhum dengan Kungfu Boy. Serial manga karangan Takeshi Maekawa itu membawa imajinasi yang melekat di benak pembacanya akan sebuah jurus paripurna milik pendekar Tekken Chinmi. Jurus mematikan itu bernama ‘Kungfu Peremuk Tulang’. Dikatakan jurus paripurna karena ia mampu memungkasi peperangan dengan kemenangan gilang-gemilang atas rupa-rupa musuhnya.

Dalam filosofi Tekken Chinmi atau Kungfu Boy, menguasai satu jurus namun mematikan jauh lebih berharga ketimbang menggenggam seratus jurus tapi setengah-setengah. Itu artinya, kemenangan dalam peperangan amat mungkin diraih dengan fokus dan konsistensi tinggi.

Sayangnya, perjalanan menemukan jurus sakti untuk menyudahi peperangan dengan kemenangan itu sangat terjal. Butuh stamina prima, perlu daya tahan ekstra. Singkatnya, harus punya stok endurance berlimpah.

Seperti itu pula gambaran ikhtiar kita memenangi peperangan melawan pandemi covid-19. Sampai saat ini, upaya mendapatkan jurus pamungkas tersebut belum sepenuhnya gol. Pada saat yang bersamaan, sang musuh, Korona, terus melipatgandakan ‘kekuatan’ dengan cara bermutasi.

Saat ikhtiar memperoleh vaksin masih memasuki uji klinis tahap III (bahkan vaksin Merah Putih usaha anak bangsa baru akan masuk fase uji praklinis terhadap mamalia), kita dihadapkan pada kurva positif kasus covid-19 yang terus mendaki. Dalam satu setengah bulan terakhir, angka positivity rate kita naik dari 11 persen ke 14 persen. Saat pekan-pekan sebelumnya penambahan kasus positif masih di zona 2.000-an, dalam dua pekan terakhir naik ke level 3.000-an.

Tingkat kematian (fatality rate) juga masih tinggi, yakni 4,08 persen, lebih tinggi daripada rata-rata dunia yang sebesar 3,24 persen. Banyak orang kehilangan sanak saudara tercinta, bahkan dunia telah kehilangan sejumlah tokoh, pemikir besar, para dokter dan pejuang garda depan yang tidak mudah digantikan.

Kabar baiknya, penanganan kesehatan yang tecermin dari tren tingkat penyembuhan covid-19 di Indonesia lumayan baik. Persentasenya bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan rata-rata negara berpenduduk besar di dunia. Bahkan Indonesia lebih baik ketimbang Amerika Serikat dengan rasio kesembuhan 71,19 persen berbanding 58,72 persen.

Di tengah kurva mendaki covid-19 tersebut, kita juga dihadapkan pada ancaman resesi ekonomi. Resesi atau kemerosotan ekonomi terjadi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.

Kini banyak yang mulai khawatir¸ kita bakal masuk pintu pertama resesi. Setelah ekonomi tumbuh positif 2,9 persen di kuartal pertama, lalu tumbuh negatif 5,2 persen di kuartal kedua, banyak analis memprediksi pertumbuhan ekonomi kita bakal kembali negatif di kuartal ketiga yang hanya menyisakan dua pekan lagi. Mulai muncul pula imajinasi sejumlah orang jika resesi berlanjut, bakal muncul depresi ekonomi.

Kolomnis Sidney J Harris membedakan istilah-istilah di atas dengan cara ini: "Sebuah resesi ialah ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan, depresi adalah ketika kamu yang kehilangan pekerjaan."

Memang, tidak seperti Singapura yang mengandalkan perekonomian negerinya dari perdagangan dan ekspor, Indonesia boleh ‘bernapas lega’ karena geliat perekonomiannya ditopang sektor konsumsi. Angkanya cukup besar: 58 persen. Namun, kemampuan daya beli ada batasnya. Saat tabungan terus terkuras, pada titik tertentu akan terjadi sesak napas.

Belum lagi ditambah dengan postur tenaga kerja kita yang didominasi pekerja informal. Mereka yang setengah bekerja dan setengah menganggur ini, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS 2019), jumlahnya 72 juta orang dari total 126,5 juta pekerja di Indonesia. Para pekerja informal yang bekerja hari ini untuk makan hari ini, tersebut punya dua risiko yang sama berat: terpapar (covid-19) atau terkapar.

Itulah yang memunculkan dilema saban pemerintah memutuskan langkah mengatasi pandemi Korona. Tidak mengherankan jika selalu muncul frasa ‘tetap injak rem atau mulai ngegas’dalam sejumlah keputusan yang diambil.

Merujuk pada tren penambahan kasus postif covid-19, tancap gas jelas bukan langkah yang bijak. Kebijakan menyeimbangkan rem dan gas, sama juga dengan menggenggam seratus jurus namun setengah-setengah. Maka yang harus diprioritaskan ialah taklukkan dulu musuh utama secara fokus dan konsisten.    

Apa yang dikatakan Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Erick Thohir bahwa penanganan kesehatan harus diutamakan ketimbang ekonomi, sudah tepat. Tinggal merapikan semua pasukan dalam orkestrasi yang sama dengan pernyataan Erick saat memberikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-63 Unpad, Jumat, 11 September 2020 lalu.

Boleh jadi, dengan fokus tinggi dan konsistensi tiada henti, jurus Kungfu Peremuk Tulang bakal dikuasai.*

EDITOR

Abdul Gafur

loading...

Berita Terkait

Komentar