#korupsi#pengadilan

Juprius Bantah Terlibat Jual Beli Proyek di Dinas BMBK Lampung

Juprius Bantah Terlibat Jual Beli Proyek di Dinas BMBK Lampung
Para Saksi dan JPU saat persidangan kasus jual beli proyek yang digelar secara daring, Senin, 2 Agustus 2021. Lampost.co/Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Mantan Sekretaris Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Lampung, Nurbuana, dan politikus serta pengusaha, Juprius, tidak hadir di persidangan sebagai saksi dalam kasus penipuan jual beli proyek di PN Kelas IA Tanjungkarang, Senin, 2 Agustus 2021.

Keduanya menjadi saksi dalam kasus yang menjerat terdakwa Hasrul alias Ujang (52), PNS Dinas BMBK Lampung. jaksa penuntut umum (JPU), Nilam Agustini Putri tetap membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) dan di dengar majelis hakim.

Dalam BAP yang dibacakan JPU, Nurbuana mengaku menerima uang Rp75 juta dari terdakwa Hasrul. Uang tersebut digunakan untuk membuat penawaran proyek milik Juprius.

"Agar dimenangkan Dafriansyah," ujar JPU membacakan BAP Nurbuana.

Kemudian keterangan Juprius yang dibacakan JPU yakni ia mengenal Hasrul sejak Juli 2020, namun tidak mengenal korban Dafriansyah.

Juprius mengaku pernah bertemu dengan Hasrul tiga kali, yakni di rumahnya dan di Kantor Asosiasi  Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (Aeki) Lampung selama Juli 2020.

"Hasrul alias Uda menemui saya karena membantu saya karena saya mencalonkan diri sebagai Bupati Way Kanan," kata JPU membacakan BAP.

Dalam keterangan Hasrul di BAP, ia bersama Saksi Yusron, pada 30 Januari 2020 menyerahkan uang Rp500 juta di Kantor AEKI di Telukbetung Utara. Juprius membantah keterangan tersebut.

"Dapat saya jelaskan bahwa, saya tidak pernah menerima dan tidak tahu masalah uang Rp500 juta dari saudara Asrul," kata JPU membacakan BAP Juprius.

Kemudian Saksi lainnya yakni Yudi mengatakan uang Rp500 juta diserahkan ke Hasrul di rumahnya, sedangkan Rp184 juta ia tidak mengetahui.

Yudi juga mengaku pernah bertemu dengan Nurbuana di Mie Aceh Bandar Lampung.

"Pak Nurbuana meyakinkan proyek itu ada dan proyek Pak Juprius agar segera ditenderkan," kata Yudi di persidangan secara daring.

Kemudian Hasrul/ Ujang membuat surat pernyataan akan mengembalikan uang, namun kenyataannya tak ada dan proyek yang dijanjikan tidak pernah ada.

Sebelumnya, Hasrul didakwa melanggar  Pasal 378 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana, dan dakwaan kedua Pasal 372 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHPidana Jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana, tentang penipuan dan penggelapan.

Korbannya yakni Dafriansyah dijanjikan mendapat pekerjaan proyek pada Dinas BMBK senilai Rp5,7 miliar, dengan cara menyetorkan uang sekitar 12% dari besaran nilai proyek. Korban pun menyerahkan uang Rp648 juta. Namun ia tak kunjung mendapatkan proyek yang dijanjikan.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait