#Refleksi

Jihad Kemanusiaan

Jihad Kemanusiaan
Larangan mudik tahun ini diperketat dengan merebaknya Covid-19. (DOK.LAMPUNG POST)


PADA saat pandemi Covid-19, mengapa anak bangsa dilarang mudik liburan Idulfitri? Jawabnya sudah jelas, agar tidak terjadi lonjakan kasus virus corona seperti yang dialami Idulfitri tahun lalu. Karena lalai tidak memberi tahu lebih awal larangan mudik, makanya terjadi peningkatan kasus 93%.

Parahnya, angka kematian pasca-Idulfitri tahun kemarin naik sangat tajam. Menjelang libur keagamaan tahun ini, hampir seluruh provinsi di negeri ini terjadi lonjakan pasien yang terpapar Covid-19. Corona kian mewabah jika tidak dikendalikan! Mudik yang masif adalah ritual tahunan.

Setelah ada larangan mudik pada tahun ini, masih ada 7% warga yang nekat mudik. Bahkan, sebagian sudah ada yang mudik ke kampung halaman. Aturan peniadaan mudik ini untuk mencegah penularan Covid-19 yang diambil dari berbagai pertimbangan berbasis data dan pengalaman.

Angka kematian akibat Covid-19 sudah mencapai 85%. Kasus tersebut didominasi kelompok rentan, terutama berusia 47 tahun ke atas memiliki komorbiditas. Apalagi Kementerian Kesehatan RI mengumumkan ada tiga varian baru corona dengan daya tularnya mematikan. Dahsyat memang!

Tiga varian baru itu berasal dari India (B.1.617), Afrika Selatan (B.1.351), dan Inggris (B.1.17). Varian dari India itu sudah masuk Jakarta, sedangkan dari Afrika Selatan sudah masuk Bali. Begitupun varian baru dari Inggris juga ternyata sudah ada 13 kasus positif di Tanah Air.

Mengutip Strait Times, varian B.1.617 disebut juga “mutan ganda”. Virus itu mengandung dua mutasi yakni L4525 dan E484Q. Mutasi dikhawatirkan dapat meningkatkan transmisi virus dan mengurangi kemanjuran antibodi, serta memiliki pengikatan sel yang lebih baik. Mutasi virus ini juga akan memengaruhi netralisasi antibodi.

Itu mengapa negara hadir melarang masyarakat untuk mudik pada libur hari raya Idulfitri tahun ini. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memberi beberapa alasan pelarangan mudik. Pertama, meningkatnya mobilitas penduduk yang memicu bertambahnya jumlah kasus aktif. Mudik Lebaran 2020 menaikan 600 kasus setiap harinya.

Alasan pelarangan kedua, tradisi mudik rasa menunjukkan kasih sayang kepada keluarga di kampung halaman justru membawa petaka. Di balik itu, di tengah situasi pandemi—risiko yang harus diterima keluarga lanjut usia (lansia) menjadi korban. “Lansia mendominasi kematian sebesar 48%,” kata Wiku, pekan ini.

Alasan lain, selama perjalanan mudik berpotensi sarana penularan virus kendati sudah mengantongi surat rapid test antigen. Dan penularan Covid-19 tidak mengenal batas teritorial negara. India contohnya. Warga negara dari mana pun yang berasal dari India, berpotensi terpapar corona. Apalagi varian baru tingkat penyebaran sangat cepat dan memusnahkan manusia.

Memastikan tidak ada mudik antarprovinsi dan antarpulau, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 juga melarang mudik lokal. Negara benar-benar sigap menekan penularan virus corona. Bahkan, aparat berjaga siang malam di titik-titik penyekatan untuk mewaspadai modus yang digunakan warga melanggar larangan mudik 2021.

Temanku berseloroh, abang sering modus, ya? “Maksud modus itu, apa ya,” aku tanya balik ke teman tadi. Ternyata bahasa gaulnya, modus adalah modal dusta. Seperti pemudik mengelabuhi petugas di lapangan. Praktik travel gelap melalui jalur tikus yang masih membawa penumpang demi duit untuk lebaran.

***

Nyali mudik itu diperkuat hasil survei publik independen. Terungkap, sebanyak 27,1% warga dilaporkan tetap nekat pulang kampung pada saat larangan mudik mulai 6 hingga 17 Mei. “Mayoritas warga sebesar 66,3% memilih tidak jadi mudik,” kata Project Manager Rekode Research Center (RRC) Lisdiana Putri dalam rilisnya, Kamis (6/5).

Survei RRC itu juga melaporkan sebagian besar warga yang nekat mudik itu menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor. Kelompok ini 30,9% menggunakan mobil dan 25,3% responden kendaraan bermotor. Yang memilih naik pesawat terbang 15%. Sisanya, menggunakan kereta api, bus, kapal laut, dan travel. Dilarang mudik… tetap mudik juga.

Survei dilakukan mulai 26 April—5 Mei 2021 melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi itu, ternyata yang nekat mudik sebagian besar dari kalangan pelajar atau mahasiswa (35,2%), karyawan swasta (32,6%). Mereka akan lebih nyaman lagi jika berlebaran dengan keluarga di kampung halaman.

Selebihnya yang ingin tetap mudik adalah para wiraswasta dan ibu rumah tangga. Mirisnya lagi, sebanyak 76,6% responden menganggap tidak yakin bahwa kebijakan larangan mudik akan efektif diikuti warga. Ini akibat dari tidak diikuti oleh penegakan hukum yang tegas di lapangan. Survei ini juga patut dijadikan acuan agar lebih ketat lagi sehingga ada efek jeranya.

Yang jelas, negara khawatir melihat warga yang nekat mudik. Epidemiolog Universitas Indonesia mengingatkan warga yang lalai itu, tidak menutup kemungkinan akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 di negeri ini. “Jumlah varian B.1.617 dari India sudah menyebar di Indonesia,” kata epidemiolog Pandu Riono. Jika lalai, pandemi di negeri ini akan seperti di India!

Masyarakat harus memperketat penerapan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak aman, serta membatasi mobilitas, baik keluar kota untuk mudik dan wisata di dalam kota. TNI dan Polri sebagai garda terdepan–benteng pertahanan penegakan hukum terakhir, harus sigap lagi menghadapi libur Idulfitri.

Terlebih menjelang Lebaran, terjadi kerumunan warga yang banyak ditemui di pasar tradisional dan modern. Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia merilis, ada peningkatan 30% pengunjung di pusat perbelanjaan. Lonjakan itu mulai terjadi pada Maret lalu hingga menjelang Lebaran.

Janganlah pusat perbelanjaan ini menjadi klaster baru. Satgas Penanganan Covid-19 wajib mengawasi penerapan protokol kesehatan. Masyarakat juga harus waspada atas banyaknya temuan varian baru di Indonesia. Jika tetap abai–kejadian gelombang tsunami Covid-19 di India menjadi cermin bagi warga yang tidak peduli peringatan dari pemerintah.

Cukuplah ulama dan tokoh masyarakat menjadi teladan bagi anak-anak bangsa mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Perlu juga kecerdasan dan jihad kemanusiaan untuk tidak mudik, berkerumun di pasar, tempat wisata, serta menggelar salat idulfitri cukup di rumah saja. Ini semua ikhtiar–berjihad untuk memutus rantai penyebaran virus di negeri ini.  ***

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait