#nuansa#virus-corona#belajar-dari-rumah

Jangan Sampai Ambyar

( kata)
Jangan Sampai Ambyar
Ilustrasi - Medcom.id.

Deni Zulniyadi 

Wartawan Lampung Post

SUDAH hampir dua minggu siswa dari PAUD sampai SMA sederajat belajar dari rumah. Praktiknya, setiap hari guru memberi tugas melalui e-mail atau WA untuk dikerjakan siswa di rumah.

Hal tersebut mungkin bukan masalah besar bagi orang tua yang ibu rumah tangga dan hanya memiliki satu anak. Sebaliknya, hal tersebut justru menjadi beban berat jika orang tua adalah pekerja yang tetap harus ke luar rumah untuk menunaikan tugas.

Tidak semua orang tua bisa bekerja dari rumah. Sebut saja polisi, tenaga kesehatan, hingga jurnalis. Bagi anak yang orang tuanya harus tetap keluar rumah, metode pembelajaran macam itu justru malah ambyar.

Bagaimana tidak, orang tua sudah lelah ketika pulang ke rumah tidak mampu lagi menemani siswa mengerjakan tugas yang diberikan setiap hari, utamanya bagi orang tua yang anaknya masih SD.

Butuh tenaga dan pikiran yang fit untuk mengawasi anak benar-benar fokus pada pembelajaran daring. Inilah dilemanya. Di satu sisi orang tua harus tetap menjalankan tugas, di sisi lain anak harus mendapat perhatian penuh dalam mengerjakan tugas.

Alhasil, baru empat hari diterapkan, pembelajaran daring sudah menuai protes. Pada Kamis (19/3), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kebanjiran aduan dari masyarakat. Isinya keluhan dalam mengikuti sistem belajar daring. Aduan dari berbagai daerah itu mengeluhkan beratnya penugasan dari guru.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, menilai kemungkinan besar para guru memahami home learning adalah dengan memeberikan tugas-tugas secara daring. Padahal, konsep belajar dari rumah adalah memberi kegiatan belajar rutin, bukan malah menumpuk tugas. Benang merahnya adalah supaya siswa tetap belajar dan menjaga keteraturan, sehingga saat masuk sekolah siswa tetap semangat belajar.

Di tengah situasi darurat ini, seharusnya guru jangan cuma berorientasi pada pembelajaran secara daring. Coba juga metode luring yang kreatif sesuai jenjang pendidikan dan tujuan mata pelajaran.

Pemberian tugas harian dengan tenggat mendesak tampaknya malah memperburuk kondisi. Belum lagi masalah kuota data yang membengkak. Tidak semua kalangan mampu mengikuti pembelajaran yang menyita biaya relatif besar. Bagaimana tidak besar, bahan tugas yang diberikan harus diakses setiap hari dan kebanyakan adalah video yang berkapasitas besar.

Marilah para guru, berikan pembelajaran yang menambah wawasan keilmuan yang lebih merdeka. Misalnya satu mata pelajaran memberi satu proyek yang bisa dikerjakan dalam waktu satu minggu atau bahkan lebih.

Contoh, bagi anak SD, mengamati pertumbuhan tauge, mulai dari biji yang ditanam di kapas dan diberi air hingga hari ke-7 saat tumbuhan semakin tinggi dan berdaun. Hasilnya, pada hari ke-7 bolehlah difoto ke guru. Proyek macam ini pastilah jauh dari kata ambyar. 

EDITOR

Bambang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar