#korupsi#korupsibok#puskesmas#hukum

Jaksa: Perkara Korupsi 26 Puskesmas Lampura Berlanjut Bila Ada Bukti Baru

Jaksa: Perkara Korupsi 26 Puskesmas Lampura Berlanjut Bila Ada Bukti Baru
Jaksa Hardiansyah. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co): Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Lampung Utara (Lampura) siap menindaklanjuti nama-nama yang disebutkan terdakwa Maya Metissa yang turut serta menikmati hasil korupsi dana Operasional Kesehatan (BOK) seperti yang terungkap dalan fakta persidangan, pada Senin, 9 November 2020. 

Adapun ketiga nama yang disebut-sebut terdakwa turut serta menikmati potongan dana BOK dan akan dihadirkan pada sidang berikutnya yakni Yustian Adhinata, Dani Pujiati, dan Novrida Nunyai.

Menurut Jaksa Gatra Yudha Pramana dan Hardiansyah mengatakan dengan adanya keterangan dari terdakwa Maya, JPU belum bisa menindaklanjutinya, mengingat tidak ada bukti untuk menjerat kedua orang tersebut.

Baca juga: Hakim Bisa Perintahkan Jaksa Periksa Saksi Korupsi BOK

Kata Jaksa Gatra, bisa saja menindaklanjuti perkara tersebut asalkan ada bukti lain. "Itu kan keterangan dari 1 orang saja yaitu Maya Metissa. Kita bisa saja menindaklanjutinya, asalkan memang kalau ada bukti lain. Bisa kita dalami lagi," katanya, Selasa, 10 November 2020.

Dalam sidang kemarin, Majelis Hakim meminta untuk menghadirkan tiga saksi yang sudah pernah memberi kesaksian di persidangan. Hakim mau mengkonfrontir keterangan ketiga orang tersebut.

Alasan hakim menghadirkan ketiga saksi tersebut, lantaran adanya keterangan atau kesaksian dari terdakwa Maya yang menyebutkan bahwa pemotongan dana BOK tersebut mengalir ke Yustian dan Dani.

Baca juga: Kabid Bendahara Dinkes Lampura Disebut Dapat Fee 4% Korupsi Dana BOK

"Keterangan terdakwa Maya nyebut begitu (aliran dana mengalir juga ke Yustian dan Dani). Makanya hakim mau konfrontir mereka pada sidang selanjutnya. Novrida kenapa dipanggil lagi, karena dia yang menyerahkan uang tersebut," ujar Gatra.

Dalam kesaksian terdakwa Maya, mengakui dirinya menikmati dana pemotongan BOK, namun hanya 4 persen. Sedangkan pemotongan tersebut 10 persen.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait