limbah

Izin Lingkungan RSMI Bukit Kemuning Masih Diproses DLH Lampura

( kata)
Izin Lingkungan RSMI Bukit Kemuning Masih Diproses DLH Lampura
Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkung DLH Lampura, Luzirwan didampingi Kabid bahan berbahaya dan beracun (B3), Kausar mewakili Plt Kepala Welly saat memberikan keterangan terkait izin lingkungan RSMI Bukit Kemuning dikantornya,Kamis (28/5/2020). Lam

KOTABUMI (Lampost.co) -- Izin lingkungan rumah sakit (RS) Medika Insani (MI) Bukit Kemuning diketahui sedang diproses perpanjangan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lampung Utara.

Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkung DLH Lampura, Luzirwan didampingi Kabid bahan berbahaya dan beracun (B3), Kausar mewakili Plt Kepala Welly, Kamis, 28 Mei 2020, mengatakan proses perpanjangan izin lingkungan telah disampaikan sejak ramadan lalu. Dan saat ini tengah diproses di dinas lingkungan hidup setempat.

"Benar itu sedang diproses, tepat mereka (RSMI) telah menyerahkan berkasa sebelum lebaran atau ramadhan lalu," kata dia.

Menurut Luzirwan, pihaknya juga telah turun langsung ke lapangan sesuai arahan pimpinannya guna meninjau lokasi di lapangan. Apakah permasalahan itu benar adanya, dan saat di lokasi semua dalam kondisi baik. Mulai dari instalasi pengolahan limbah (Ipal) sampai dengan proses pembuangannya, yang diperkuat dengan pernyataan sang direktur.

"Kalau kita turun kurang lebih demikian keadaan, tapi ada beberapa yang belum berfungsi optimal. Seperti Ipal yang sedang dalam tahap perbaikan, dan mereka cukup baik menyambut serta memberikan keterangan," terangnya.

Namun demikian, fakta di lapangan cukup mengejutkan. Berdasarkan informasi dikumpulkan di lapangan, terdapat bercak-bercak darah di tempat pembuangan air limbah (outlet) yang sempat diprotes warga. Lalu, tempat penampungan air limbah diklaim telah dibeli, namun fakta dilapangan tidak terjadi karena mendapat protes warga. Sebab, mereka tahu akan dijadikan sebagai tempat limbah sehingga mendapatkan penolakan.

Hal itu diperkuat dengan pernyataan sejumlah warga yang menyatakan benar bahwa itu bukan milik RSMI. Melainkan warga disana, padahal sebelumnya jelas telah diklaim telah dibeli dan akan dijadikan sebagai tempat penampungan. Karena tidak ada penolakan, lantas tak jadi dibuat.

"Itu saluran ada tiga yang dibuat, mulai dari air dari ruang pasien atau tempat praktek, limbah wc/dapur dan air hujan. Semua bermuara di areal persawahan milik warga disini, dan bermuara di aliran anak sungai," ujar salah seorang warga setempat.

EDITOR

Winarko

loading...

Berita Terkait

Komentar