#unila#pendidikan

Inovasi FP Unila Pecahkan Masalah Pertanian dan Peternakan Lampung

Inovasi FP Unila Pecahkan Masalah Pertanian dan Peternakan Lampung
Dekan FP Unila, Irwan Sukri, saat launching program matching fund di aula FP setempat, Selasa 6 Desember 2022.   Lampost.co/Deta Citrawan


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) menciptakan inovasi di bidang pertanian dan peternakan.

Dekan Fakultas Pertanian Unila, Irwan Sukri Banuwa, mengatakan inovasi itu program matching fund dalam upaya pertahanan krisis pangan global.

"Program ini dilakukan selama 70 hari sejak 22 Juni 2022 di Lampung Timur, Pesawaran, Tulangbawang Barat, Lampung Tengah, Pringsewu, Mesuji, dan Lampung Selatan," ujar Irwan, Selasa, 6 Desember 2022.

Dalam program tersebut terdapat empat kegiatan di bidang pertanian dan peternakan, antara lain pendampingan petani singkong untuk subsidi pupuk organik, pencegahan penyakit mulut dan kuku melalui pakan berkualitas, peningkatan produksi sapi potong melalui batang singkong, dan meningkatkan nilai telur ayam menjadi telur asin.

“Penghapusan pupuk subsidi untuk tanaman singkong jadi masalah pertama. Maka dibuat pupuk organik baik padat maupun cair yang harganya lebih murah agar jadi solusi,” kata dia.

Kemudian pembuatan alat pengolah batang singkong bernama Rabakong untuk pakan sapi dengan tambahan multinutrien bisa meningkatkan bobot harian sapi. Bio security untuk PMK sapi Lampung, tim Unila terus mencari solusi untuk pencegahan penyakit mematikan tersebut.

“Kami berikan pakan berkualitas dan bio security, Alhamdulillah bisa dilaksanakan. Di empat kabupaten itu ada 452 ekor sapi yang diobati melebihi target dari 400 ekor,” ujar dia.

Menurutnya, selama ini kesulitan peternak ayam petelur ada pada produksi tinggi yang tidak diimbangi daya beli.

“Kami carikan solusinya buat telur asin ayam ras atau telur layer. Ini ternyata mengatasi persoalan di tingkat peternak,” kata dia.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Unila, Murhadi, mengatakan dua tema pada telur asin dari telur ayam ras serta limbah batang singkong untuk pakan sapi dinilai cukup menarik.

“Simple and surprising gak terpikir kan. Padahal sumber dayanya ada dengan teknologi yang diterapkan pada masyarakat,” katanya,

Menurutnya, peningkatan riset bisa membuat telur asin semula tiga hari bisa dibuat menjadi satu hari. “Jadi bisa dikembangkan lagi misalnya dari sisi wirausaha, pemasaran dan sebagainya," katanya.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait