#internet#digital#milenial#Mediasosial#hoaks#hoax

Ini Untung Rugi Hidup di Era Banjir Informasi

Ini Untung Rugi Hidup di Era Banjir Informasi
Wakil Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi Kemenkominfo Romzi Ahmad (kanan) saat menjadi narasumber di SAI Radio 100 FM, Jumat, 16 April 2021. Lampost.co/Hendrivan Kumala


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Generasi Z lahir dan berkembang di tengah arus informasi yang meluber. Terlebih, kian strategisnya fungsi media sosial sekarang ini bisa mengundang untung rugi tersendiri. 

Wakil Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Romzi Ahmad mengatakan keuntungan banjir informasi yang paling tampak adalah kebebasan bagi seseorang untuk mengecek kebenaran informasi yang ia terima.

"Kian heterogen informasi akan membuat anak muda lebih gampang memvalidasi pengetahuan. Kita bisa mengkomparasikan satu berita dengan berita yang lain," kata Romzi saat menjadi pembicara di talkshow bertema Milenial Menghadapi Flood of Information di SAI Radio 100 FM, Jumat, 16 April 2021.

Baca: Suma.id Mengusung Literasi Lawan Hoaks

 

Romzi menjelaskan, yang menjadi problem adalah ketika orang menganggap berita pertama yang ia terima itulah yang dianggap kebenaran.

"Tanpa validasi ulang, padahal kita punya kemampuan untuk mengecek," kata dia. 

Asisten Staf Khusus Presiden RI tersebut juga mengatakan, ada dua tipikal anak muda hari ini dalam memanfaatkan internet sebagai media memperoleh pengetahuan. Pertama, ada yang bisa memaksimalkan mesin pencari dengan baik atau termasuk orang-orang yang memiliki literasi digital cukup tinggi.

"Kedua, ada pula yang dia mendapatkan pengetahuan dengan hanya memasrahkan diri pada algoritma media sosial yang sudah terbentuk sesuai kebiasaannya," kata dia.

Sosok yang karib disapa Gus Romzi ini juga menjelaskan, yang lebih parah lagi ada sebagian anak muda yang mengandalkan validasi pengetahuannya dari influencer (pendengung) yang mereka kagumi.

"Anak muda menjadikan influencer sebagai kurator pengetahuan, ini juga problem. Mereka justru mengharapkan orang lain yang menyediakan pengetahuan," kata dia.

Persoalan lain di era banjir informasi, menurut Romzi, adalah kegagapan warganet dalam memahami media sosial sebagai ruang publik atau tertutup. 

"Ada banyak yang menganggap komentar atau diskusi di media sosial sebagai sesuatu yang privat, tertutup. Sehingga, dengan seenaknya berkomentar menghina dengan tujuan menyasar pada si pemilik akun, nyatanya bisa terbaca dan menimbulkan ketersinggungan terhadap orang banyak," kata Romzi.

Romzi menyodorkan tips era banjir informasi harus diimbangi dengan tradisi komparasi, verifikasi, dan validasi. Serta yang tak kalah penting adalah memperhatikan hal-hal detail.

"Misalnya, yang kredibel Lampost.co dan LampungPost.id, maka harus diperhatikan betul. Sehingga orang akan sadar jika dia menyasar pada domain yang mirip namun belum tentu kredibel, misalnya menemukan domain lampost.com atau lampungpost.net. Ini perlu dicek ulang kebenaran informasinya," ungkap dia. 

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait