#Covid-19#inggris

Inggris Dinilai Gagal Tangani Covid-19

Inggris Dinilai Gagal Tangani Covid-19
Ilustrasi imbauan prokes di Inggris. AFP


London (Lampost.co) -- Anggota parlemen Inggris mengatakan tanggapan pemerintah saat covid-19 melanda Eropa yang menelan ribuan nyawa merupakan “salah satu kegagalan kesehatan masyarakat yang paling penting” dalam sejarah negara.
 
Dilansir dari AFP, Kamis, 14 Oktober 2021, sekelompok anggota parlemen lintas partai menemukan, perencanaan pandemi secara resmi dinilai terlalu sempit dan tidak fleksibel pada pengendalian layaknya wabah influenza.
 
Selain itu, Pemerintah Inggris disebut gagal belajar dari hantaman sebelumnya, yaitu wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Ebola.

Sejak Maret 2020, Inggris dilaporkan menjadi yang tertinggi di Eropa dengan hampir 138 ribu kematian akibat virus corona. Angka ini menimbulkan pertanyaan tentang “mengapa Inggris bernasib lebih buruk daripada sejumlah negara sebanding”.

Baca: Inggris Hapus Indonesia dari Daftar Merah Covid-19

 

 Dalam laporan setebal 145 halaman, anggota parlemen dari dua komite parlemen mengatakan, pemerintah Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson menunggu terlalu lama untuk bertindak pada awal 2020.
 
“Penasihat terkemuka bersalah atas ‘pemikiran kelompok’ dan mendorong pendekatan bertahap untuk intervensi seperti jarak sosial, isolasi, dan penguncian,” kata laporan mereka.
 
Pendekatan tersebut ditandai dengan ‘fatalisme’ terkait penyebaran covid-19 dan keyakinan bahwa, masyarakat Inggris tidak akan menoleransi langkah tindakan keras seperti di beberapa bagian Asia Timur. Namun, telah terbukti ‘salah’ dan menyebabkan jumlah kematian yang lebih tinggi.
 
“Keputusan tentang penguncian dan jarak sosial selama minggu-minggu awal pandemi dan saran yang mengarah ke sana digolongkan sebagai salah satu kegagalan kesehatan masyarakat terpenting yang pernah dialami Inggris,” tulis anggota parlemen kepada Ekibat..
 
Selain itu, terdapat “ribuan kematian yang sebenarnya bisa dihindari” saat pasien lanjut usia dipulangkan dari rumah sakit ke rumah perawatan tanpa tes. Hal ini dinilai berbeda dengan pendekatan ketat yang diambil oleh Jerman dan Hong Kong.
 
Namun, laporan tersebut memuji peluncuran cepat kampanye vaksinasi massal covid-19 Pemerintah Inggris pada Desember lalu. Mereka beralasan telah “menebus” beberapa kegagalan sebelumnya.
 
Juru Bicara Kelompok Keluarga Korban Covid-19 untuk Keadilan Inggris, Hannah Brady, mengatakan temuan dalam laporan tersebut “menggelikan”, “Ini adalah upaya untuk mengabaikan keluarga yang berduka, yang akan dilihat sebagai tamparan di wajah.”
 
Para anggota parlemen menjelaskan Inggris juga secara keliru menerapkan “kontrol perbatasan dengan sentuhan ringan” hanya di sejumlah negara dengan tingkat covid-19 yang tinggi, bahkan saat sebagian besar kasus berasal dari Prancis dan Spanyol.
 
Anggota Parlemen Konservatif sekaligus Mantan Sekretaris Kesehatan yang memimpin salah satu Komite Laporan, Jeremy Hunt, menyatakan pemerintah Inggris gagal menyerap pengalaman awal Korea Selatan dan Taiwan. Kedua negara ini disebut cepat memperkenalkan sistem uji dan penelusuran massal.
 
“Negara-negara Asia Timur dengan pengalaman langsung SARS dan MERS merespons paling baik pada paruh pertama pandemi. Kami selalu berlari untuk mengejar ketinggalan,” kata Hunt kepada radio BBC.
 
Bahkan, laporan tersebut menemukan, staf etnis minoritas yang bekerja di garis depan Pelayanan Kesehatan Nasional tengah menghadapi kesulitan yang lebih besar dalam mengakses peralatan pelindung pribadi yang sesuai dan menderita dengan tingkat yang tidak proporsional.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait