#penusukan#joker

Idolakan Joker, Pelaku Serangan di Kereta Tokyo Sengaja Ingin Divonis Mati

Idolakan Joker, Pelaku Serangan di Kereta Tokyo Sengaja Ingin Divonis Mati
Kereta tempat terjadinya serangan pria berkostum Joker terlihat di Chofu, Tokyo bagian barat, Jepang, 31 Oktober 2021. (Kazuhiro NOGI / AFP)


Tokyo (Lampost.co) -- Kyota Hattori (24), pelaku aksi serangan di kereta Tokyo saat malam Halloween, mengaku sangat menyukai musuh bebuyutan karakter superhero Batman, Joker. Ia mengenakan pakaian ala Joker saat melakukan aksinya di ibu kota Jepang pada Minggu malam kemarin.

 

Kepolisian Tokyo mengatakan, Hattori memang ingin membunuh orang agar bisa mendapat vonis hukuman mati. "Ia berpikir sejak Juni lalu cara mendapatkan hukuman mati," kata polisi, dilansir dari Nikkei Asia, Senin, 1 November 2021.

Foto dan video yang diunggah di media sosial oleh saksi mata memperlihatkan seorang pria yang mengenakan kemeja hijau dan setelan ungu ala kostum Joker.

Sekitar dua jam sebelum kejadian, Hattori mengunjungi distrik Shibuya, Tokyo, tempat yang ramai dikunjungi mereka yang merayakan pesta kostum Halloween. Pelaku memilih kereta ekspres terbatas menuju pusat kota karena diisi banyak penumpang.

"Ia mengungkapkan penyesalan karena gagal membunuh siapapun dalam serangan itu," lanjut polisi.

Sebanyak 17 orang terluka, termasuk seorang pria tua berusia 70-an yang saat ini dalam kondisi kritis. Pria itu ditikam di dada saat kereta Jalur Keio bergerak sekitar pukul 20.00 waktu setempat.

Tersangka juga diduga menyalakan api di kereta menggunakan cairan kimia. Sebanyak 16 korban, berusia antara 16 hingga 60-an, menderita luka ringan.

Hattori mengaku gagal di dunia kerja serta memiliki masalah hubungan dengan teman-temannya. Serangan yang dilakukannyaterjadi di kereta 10 gerbong menuju Shinjuku, stasiun sibuk di pusat Tokyo, dari Hachioji di barat ibu kota.

Rentetan Serangan di Kereta Jepang

Serangan tersebut menyebabkan kepanikan para penumpang. Mereka berusaha menyelamatkan diri melalui jendela kereta. Kereta berhenti darurat di Stasiun Kokuryo di Chofu, Tokyo barat, tetapi pintunya tidak segera terbuka.

Operator Keio Corp mengatakan kereta mereka tidak berhenti di posisi yang tepat, dan staf memutuskan untuk tidak membuka pintu untuk mencegah penumpang jatuh ke celah antara kereta dan peron.

"Masinis tidak mengetahui apa yang terjadi di kereta saat itu," kata perusahaan tersebut.

Polisi menemukan sebilah pisau, beberapa botol plastik yang kemungkinan berisi cairan pemantik api, dan kaleng aerosol di dalam gerbong kereta. Menyusul kejadian tersebut, Kementerian Perhubungan meminta seluruh perusahaan kereta api di Jepang untuk meningkatkan kewaspadaan guna memastikan keselamatan penumpang.

Sejumlah serangan terhadap kereta api dan stasiun di daerah Tokyo telah terjadi baru-baru ini. Seorang pria menikam dan melukai 10 penumpang pada Agustus lalu di kereta komuter Odakyu Electric Railway.

Pada 15 Oktober, dua pria ditikam seorang pria di Stasiun JR Ueno. Dalam insiden terpisah, dua orang terluka di stasiun kereta bawah tanah Tokyo pada akhir Agustus lalu, setelah seorang pria menyemprotkan asam sulfat ke wajah penumpang.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait