#beritalampung#beritabandarlampung#feature

Semangat Penjual Pempek Panggang, Menyekolahkan 7 Anak Hingga Mampu Membeli Kendaraan

<i>Semangat Penjual Pempek Panggang, Menyekolahkan 7 Anak Hingga Mampu Membeli Kendaraan</i>
Muhammad Kasim berdagang pempek panggang di sekitar Kartika Persit, Bandar Lampung, Rabu, 14 Desember 2022. Foto: Hamida


Bandar Lampung (Lampost.co): Semangat pantang menyerah begitu nampak pada Muhammad Kasim, Rabu, 14 Desember 2022. Pria paruh baya yang berdagang pempek panggang di sekitar Kartika Persit, Bandar Lampung itu fokus menjajakan dagangannya.

Kulitnya yang kecokelatan karena selalu terkena paparan sinar matahari. Matanya yang sayu dengan pipi yang sudah mengendur. Namun senyum dibibirnya tak pernah ia hilangkan. Ia tetap memiliki semangat yang tak pernah luntur demi menghidupi keluarga terkasihnya.

Pria yang berumur 54 tahun ini merupakan perantauan dari Kota Palembang yang mengadu nasib di Kota Bandar Lampung sejak 1997. Ia berharap di Kota Tapis Berseri yang memiliki makanan khas seruit ini mampu membawa penghidupan bagi keluarganya menjadi lebih baik. 

Pempek panggang adalah makanan ringan khas Palembang berbahan dasar ikan tenggiri yang gurih lembut, dengan tekstur kenyal dan aroma panggang yang lezat. Didalamnya ada isian gurih pedas dari ebi yang dihaluskan.

"Sejak di Palembang saya memang sudah berjualan pempek panggang. Kemudian saya merantau ke Lampung untuk memulai pengalaman baru dengan tetap melanjutkan usaha berjualan pempek panggang. Ternyata di Bandar Lampung, pempek panggang masih belum banyak yang menjualnya," katanya yang saat ini tinggal di Kedamaian Bandar Lampung.

Muhammad Kasim menikah dengan istrinya Srimulyati dan dikaruniai 7 anak. Ia bersyukur 2 anaknya sudah berkeluarga. Namun, ia harus mencukupi segala kebutuhan keluarganya dan memperjuangkan pendidikan untuk 5 anak yang lainnya hingga menempuh pendidikan tinggi. 

Ia mengatakan kedua anaknya telah masuk di STKIP Pendidikan Agama Islam dan Sejarah Sastra. Kemudian 3 anaknya yang lain masih mengenyan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD).

Setiap harinya ia membawa 500 tusuk sate jeroan ayam dan 350 pempek panggang. "Berjualan sejak pagi hingga sore. Alhamdulillah setiap hari ramai pembeli. Selain menjual pempek panggang, ada juga sate yang biasa dijual angkringan yaitu jeroan ayam," ceritanya.

"Lebih enak jualan, karena hasilnya ada terus setiap hari. Dulu pernah jadi guru honorer tapi karena upah gajinya tidak besar, saya memilih untuk melanjutkan hidup dengan berjualan. Pernah juga daftar PNS tapi tidak lanjut," katanya.

Kasim mengaku, modal usaha pempek panggang ini hanya Rp300 ribu, tetapi bisa mendapatkan omzet jutaan dalam sebulan. Hingga saat ini ia pun mampu untuk membeli beberapa kendaraan roda dua dan roda empat. 

"Saya masih memiliki 5 anak yang perlu dibiayai pendidikannya dan kebutuhannya. Insyaallah dengan berjualan selalu mendapat keringanan untuk semua kebutuhan keluarga," katanya. (Hamida)

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait