#ekonomi#pandemicovid-19

Semangat Membara Puguh Bangkit di Tengah Pandemi

<i>Semangat Membara Puguh Bangkit di Tengah Pandemi</i>
Puguh Santoso saat memproduksi tahu di rumahnya, Gunung Sulah, Way Halim, Bandar Lampung. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Tungku api yang selalu menemani Puguh Santoso menjalankan usaha pembuatan tahu sempat padam sebulan di awal pandemi Covid-19. Namun, bara api kembali menyala seiring semangat Puguh untuk meneruskan usahanya yang sudah dilakoninya selama 25 tahun.

Pandemi Covid-19 yang melanda sebagian besar dunia, termasuk Indonesia, memukul sejumlah sektor, termasuk ekonomi. Kondisi itu pun sempat memukul usaha yang menjadi sumber penghasilan Puguh. Akibatnya, usahanya pun sempat terhenti selama sebulan.

"Usaha yang sudah saya tekuni sejak 1995 sempat tidak berproduksi selama sebulan akibat pandemi Covid-19 mulai masuk ke Bandar Lampung," katanya saat ditemui di kediamannya yang sekaligus menjadi tempat usahanya membuat tahu, Jumat, 6 November 2020. 

Namun, kini pria berusia 56 tahun itu mengaktifkan kembali usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang berada di Gunung Sulah, Way Halim, Bandar Lampung itu. Usaha pembuatan tahu itu menjadi sumber adalan penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

Meski produksi usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dilakoni tidak seperti sebelum pandemi, tidak menyurutkan tekad dan semangat bapak tiga anak itu untuk bangkit. Dia mengakui produksi tahunya hanya separuh dari yang biasa dihasilkan sebelum adanya pandemi.

"Kini hanya bisa memproduksi setengah dari yang biasa saya buat sebelum adanya pendemi Covid-19 ini. Sebelum pandemi, biasnya bahan baku kedelai yang digunakan minimal 70 kilogram, tapi kini hanya setengahnya saja," katanya. 

Di saat sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpi, Puguh bersama istrinya, Purwanti (53), sudah bangun sekitar pukul 3.00 untuk memulai pembuatan tahu. Proses pembuatan yang masih menggunakan peralatan manual itu dimulai dengan merendam bahan baku utama berupa kacang kedelai selama 4 jam.

Sambil menunggu selesai perendaman, subuh-subuh pasangan suami istri itu berangkat ke sejumlah pasar tradisional untuk mendistribusikan tahu yang sudah dibuat sehari sebelumnya. 

"Biasanya saya bersama istri setelah merendam kacang kedelai langsung ke Pasar Way Kandis, Jatimulyo, dan Karanganyar untuk melempar tahun yang sudah dibuat sehari sebelumnya. Kami sudah memiliki langganan yang siap menampung tahu produksi kami," ujarnya.

Sepulang mendistribusikan tahu sekitar pukul 07.00, tugas untuk mengangkat kacang kedelai yang direndam sudah menunggu. Kemudian kacang kedelai tersebut dihaluskan.

"Setelah digiling halus bahan baku itu dicampur air dan langsung direbus selama setengah jam. Kemudian hasil rebusan dimasukkan ke bak besar untuk didinginkan guna memisahkan antara sari kacang dan ampasnya," ujarnya sambil menunjuk ke arah bak pendinginan.

Dia menambahkan setelah dingin kemudian disaring untuk diambil sari pati untuk dicetak menjadi tahu. Selanjutnya dipotong-potong sesuai ukuran dan dalam satu cetakan bisa dihasilkan 100 potong.

"Jika tahu putih sudah jadi, bakda zuhur kami goreng sebagian untuk dijadikan tahu yang biasanya berwarna kecokelatan. Pekerjaan menggoreng itu biasanya selesai jam 7 malam," ujar bapak yang masih mempunyai balita tersebut.

Harga tahu hasil produksinya yang dilempar ke pedagang di pasar tradisional bervariasi.  Untuk tahu yang sudah digoreng dijual Rp2.000 per 10 biji. Sedangkan tahu putih harganya berbeda untuk setiap ukuran. Untuk ukuran kecil Rp2.000 per 10 biji dan ukuran sedang untuk jumlah yang sama dilepas dengan harga Rp5.000. 

Dia mengaku sekali berproduksi mendapatkan pendapatan kotor Rp750 ribu belum dipotong untuk membeli bahan baku pembuatan berikutnya. Sisanya penghasilan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Sekali pembuatan bisa mendapat Rp750 ribu, tapi itu masih kotor karena belum dipotong untuk membeli bahan baku. Sisanya pun hanya pas-pasan untuk  memenuhi kebutuhan hidup keluarga," ujarnya.

Rutinitas membuat tahu akan terus dilakukan demi mengasapi dapur rumah tangganya. Libur dilakukan jika merasa sangat lelah. 

"Saya akan terus memproduksi tahu karena ini menjadi tumpuan bagi keluarga. Libur mah nanti jika sudah merasa sangat lelah," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait