#covid-19Lampung

Saya Takut Cucu Saya Dicovidkan

<i>Saya Takut Cucu Saya Dicovidkan</i>
Ilustrasi. Medcom


Kalianda (Lampost.co) -- Seorang wanita berusia 58 tahun yang tinggal di salah satu dusun kecil Kecamatan Natar, Lampung Selatan, harus berjalan kaki ke warung untuk membeli paracetamol bagi cucunya yang sedang demam.

Raut wajah sedih dan takut tergambar jelas di wajahnya. Ternyata keadaan sang cucu sedang demam hingga 39,4 derajat celcius di rumah menjadi alasan di baliknya.

“Cucu saya panas, sampai bintik-bintik lidahnya,” kata dia di depan sebuah warung kelontongan, Senin, 16 Agustus 2021.

Nenek itu kemudian mengambil selembar uang pecahan Rp10 ribu dari dompet kecil warna merah yang ia genggam untuk membayar obat penangkal demam. Lalu bergegas berjalan pulang. 

“Saya pulang dulu,” ujarnya. 

Sesampainya di rumah, Ia langsung menghancurkan paracetamol pil di atas sebuah sendok dan diberi sedikit air agar sang cucu mudah menelannya. 

Reporter Lampost.co mencoba memberikan saran agar sang cucu dibawa ke klinik atau rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan yang lebih baik, namun Nenek itu menolak.

“Saya takut cucu saya dicovid-kan. Nanti satu kampung heboh, saya nggak mau,” kata dia.

Menanggapi fenomena ‘takut dicovid-kan’, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bandar Lampung, dr. Aditya M. Biomed mengatakan, seorang dokter untuk mendiagnosis suatu penyakit pasien bukanlah suatu hal yang mudah. Dokter harus mengumpulkan bukti atau riwayat pasien sebelumnya.

“Itu ada namanya anamnesis atau kegiatan komunikasi yang dilakukan antara dokter dan pasien yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penyakit. Saat anamnesis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik tubuh seorang pasien," ujarnya.

Selanjutnya ada pemeriksaan fisik, lalu dokter mengonfirmasi dengan berbagai pemeriksaan yang diperlukan, seperti pemeriksaan lab, darah, radiologi (rontgen) dan lainnya. Setelah hasilnya keluar, dokter akan menjelaskan kepada keluarga atas hasil temuan, diagnosis dan terapi yang akan diberikan.

“Dengan alur dan SOP yang benar dan transparan, seorang dokter tidak serta merta mendiagnosis Covid-19. Perlu pemeriksaan teliti apalagi saat ini risiko terkena Covid-19 nya cukup tinggi, dengan varian Delta,” kata dia.

Lebih lanjut, dr Aditya juga menyinggung mengenai otonomi pasien yang merupakan hal utama dalam etika kesehatan, khususnya pasien dewasa yang sudah dapat berpikir dengan baik untuk dirinya sendiri.

Sementara fenomena takut ke RS karena ‘takut dicovid-kan’ biasanya individu yang seperti itu sudah dewasa dan bisa berpikir dengan baik. Tapi itu dianggap sah-sah saja dengan alasan menghargai otonomi pasien.

“Tapi alangkah baiknya kalau individu tersebut tidak memengaruhi orang lain. Kalau tidak mau ke RS ya tidak usah ke RS, kalau tidak percaya Covid-19 ya silahkan tapi jangan memengaruhi yang lain,” kata dia.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait