#jandaveteran#rumahhancur#banjir

Rumah Hancur Diterjang Banjir, Janda Veteran Berharap Uluran Tangan Dermawan

( kata)
<i>Rumah Hancur Diterjang Banjir, Janda Veteran Berharap Uluran Tangan Dermawan</i>
Kondisi rumah Darmi yang hancur diterjang banjir Rabu malam, 30 September 2020.Lampost.co/Rusdy Senapal


Tanggamus (Lampost.co) -- Gurat-gurat kesedihan terpancar dari wajah Darmi (72) saat menatap sisa puing-puing rumah yang ditempatinya akibat diterjang banjir. Rumah itu satu-satunya peninggalan almarhum suaminya, seorang veteran kemerdekaan.

Rumah petak 6 x 4 meter beratap seng kala itu menjadi tempat bersama cucunya yang berusia empat tahun tinggal. Namun, tempatnya berteduh itu kini hancur setelah diterjang banjir pada Rabu malam, 30 September 2020, dan menyisakan puing-puing dan separuh tanah bangunan. 

Beruntung saat banjir menerjang, dia dan cucunya sempat keluar dari rumah sehingga selamat dari derasnya arus banjir. Meski sebagian besar peralatan dan pakaian turut hilang terbawa arus.

Kini, warga Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Tanggamus itu hanya dapat meratap. Rumah yang selama ini ditinggali puluhan tahun hancur diterjang banjir dan tidak dapat dibangun lagi. Bersama cucu yang yatim-piatu, dia hanya dapat menumpang di rumah tetangga.

"Suami saya veteran, dulu dia ke sana ke sini cuma berjuang-berjuang terus. Dia beli tanah ini untuk anak-cucu katanya. Tidak ada peninggalan selain rumah dan tanah ini. Tapi ya sudah begini," kenang Darmi, saat di wawancarai, Senin, 5 Oktober 2020.

Dalam benak Darmi sempat terbersit untuk tinggal dengan anak-anaknya yang telah menikah, namun keadaan ekonomi mengurungkan niatnya itu. Keenam anaknya telah menikah dan tinggal terpisah dengannya. 

"Mereka belum ada kerjaan, nanti kalau saya ke sana malah bikin repot mereka. Saya ingin punya rumah sendiri, biarlah mereka mencari buat masa depan mereka. Kalau saya punya rumah, nanti mereka bisa datang menjenguk saya," ujarnya.

Darmi begitu menyayangi rumah itu karena menjadi kenangan akan almarhum sang suami dan sebagai harta satu-satunya peninggalannya. 

"Sedih, sedih sekali. Rumah ini peninggalan suami saya. Dulu sebelum meninggal, dia bilang ke saya, kalau dia tidak bisa meninggalkan apa-apa, selain rumah ini. Tapi yang penting kamu tenang katanya, rumah ini nanti dapat kamu tunggu sama anak cucu," kenang Darmi.

Dia hanya dapat berharap pemerintah dan para dermawan dapat membantunya memperbaiki rumahnya sehingga dia dan cucunya tidak lagi hidup menumpang dengan tetangga.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait