#feature#beritalampung#petani

Petani Rampai Menjerit, Hasil Panen Terbuang Sia-sia

( kata)
<i>Petani Rampai Menjerit, Hasil Panen Terbuang Sia-sia</i>
Mud Mainah, petani rampai di Kemiling, Bandar Lampung. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co): Di bawah terik sinar matahari, seorang petani rampai atau tomat kecil yang mempunyai delapan belas cucu itu mengelap peluh dengan raut wajah yang lesu. Hatinya menjerit tat kala harga rampai anjlok sehingga hasil panennya merugi.

Dia harus berfikir untuk memutar otak agar dapat bertahan di tengah wabah virus korona di Bandar Lampung.

Dengan topi caping yang menutupinya dari sinar matahari, Mud Mainah yang menginjak usia tujuh puluh sembilan tahun itu harus ikhlas dan rela merugi lantaran hasil panennya tidak dapat dipasarkan dan sampi busuk di kebun terbuang sia-sia.

Dengan lahan yang ia garap berukuran 1.200 meter persegi itu, tanaman buah rampai untuk bumbu khas sambal Lampung itu sudah melewati batas masa panen. Buah yang sudah merah tua nampak pohon yang semakin layu.

"Saya bagikan saja ke warga siapapun yang ingin mengambil karena harga rampai anjlok seribu tak sampai," ujarnya sambil memetik buah rampai di lahan yang ia garap di Kedaung, Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, Minggu, 4 Oktober 2020.

Perempuan yang sejak lama ditinggalkan suaminya tersebut biasanya dalam sekali panen mencapai satu ton dengan harga mencapai Rp3 ribu per kilo atau Rp3 juta sekali panen.

Kini dia hanya bisa merintih karena harga rampai yang anjlok. Sementara pengepul hanya ingin mengambil sedikit barang, itu pun yang belum tua atau matang.

Ibu yang juga kesehariannya sebagai tukang urut keliling itu hanya bisa mengandalkan belas kasihan warga setempat.

"Siapapun yang ingin mengambil (rampai) dan seikhlasnya memberi uang berapapun. Saya berfikir harga buah rampai akan bertahan, ternyata harga semakin anjlok dan terbuang sia-sia," ujarnya sambil memperlihatkan wajah yang penuh keikhlasan.

Untuk biaya mulai dari awal hingga panen dirinya mengaku menghabiskan biaya sebesar Rp1 juta. Mulai dari pupuk hingga perawatan sampai panen dengan jangka waktu tiga bulan. Sementara masa panen bisa mencapai satu bulan.

"Saya berharap pemerintah bisa memberi solusi kepada petani rampai saat ini yang sedang kesusahan harga rampai terjun bebas," ujar dia.

Resesi ekonomi yang mengintai begitu dekat. Dirinya mengaku mulai dari usia muda sudah menjadi petani rampai dengan mengandalkan hasil panen rampai sebagai penghasilan.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait