#FEATURE#BERITABANDARLAMPUNG

Perjuangan Buruh Cuci Sekolahkan Tiga Anaknya pada Masa Pandemi

<i>Perjuangan Buruh Cuci Sekolahkan Tiga Anaknya pada Masa Pandemi</i>
Misnawati dan anaknya menuturkan perjuangan hidup untuk menyekolahkan ketiga anaknya. Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Perempuan berkerudung itu sesekali menyeka peluh di dahinya. Ia baru saja selesai menyapu halaman gubuk mungilnya yang dibangun dari papan tua. Bangunan mungil berukuran 4x6 meter itu berdiri di atas lahan sewaan di Jalan Sultan Haji, Gg. Cempedak, Kelurahan Sepangjaya, Kecamatan Labuhanratu, Bandar Lampung. Ia mempersilakan awak media masuk ke kediamannya.

Tak lama, ia mulai menuturkan perjuangan hidup untuk menyekolahkan ketiga anaknya kepada awak media. Misnawati (40), ibu rumah tangga, harus menghidupi ketiga buah hatinya seorang diri. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh cuci.

Sejak ditinggal suaminya beberapa tahun lalu, ia harus banting tulang bekerja sebagai buruh cuci untuk menghidupi tiga anaknya yang masih bersekolah yakni Adit Fratama (17), Aldi (15), dan Anita Julia (12). Pandemi tidak menjadikannya patah arang. Ia berjuang dengan sebaik-baiknya. 

"Kalau dibilang cukup, ya enggak cukup. Bagaimana caranya dicukup-cukupi. Anak paling tua masih kelas tiga SMK Gajahmada, kedua Aldi baru mau masuk SMA 15 Bandar Lampung, dan terakhir masih SD," katanya sembari menghela napas, Rabu, 23 Juni 2021.

Dengan mata berkaca-kaca, Misnawati menyampaikan harapan besarnya terhadap ketiga buah hatinya yang tidak kenal lelah menuntut ilmu. Ia sedih mendengar cerita dari anaknya yang sering mendapatkan perlakuan kurang baik dari teman sekolahnya.

"Saya mengharapkan anak-anak ini belajar yang giat dan anak kedua saya Aldi bisa diterima gratis di sekolah. Semoga kelak bisa mengangkat derajat orangtuanya,” ujarnya.

Baca juga : Gubuk Mungil Teman Kesendirian Teh Sumi

Aldi, putra keduanya, mengatakan akan terus bersemangat menggapai mimpinya meski berada dalam keluarga miskin. Ia berharap ketekunannya dalam belajar tidak pernah mengkhianati hasil.

“Saya mau jadi guru, supaya bisa mengajar dan mengajak orang-orang belajar. Walaupun kadang sulit, tapi saya tetap semangat demi membahagiakan orangtua,” kata dia dengan optimistis. 

Aldi menceritakan kisahnya yang sering mendapatkan diskriminasi sosial di lingkungan sekolahnya. Namun, Aldi memakluminya karena memang keluarganya memiliki materi terbatas.

"Kalau ada yang menjelek-jelekkan, menghina ya saya biarin aja. Yang terpenting saya fokus belajar karena cita-cita ingin jadi guru," katanya. 

Baca juga: Merengkuh Sampan untuk Memberikan Pelayanan Kesehatan Warga Pulau Terpencil

Berbeda dengan Aldi, sang kakak, Adit Pratama, mengatakan keinginannya untuk menjadi abdi negara. Ia aktif melakukan olahraga fisik agar cita-citanya tercapai.

“Saya mau jadi tentara," ujarnya. 

Adit tidak pernah mengeluh atas keadaannya. Keluarganya cukup mendapat bantuan dari pemerintah untuk biaya pendidikan.

“Untuk Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di SMK Gajah Mada perbulan Rp190 ribu. Tetapi, itu ada bantua dari pemerintah,” kata dia.

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait