#bklgesang#kegiatansosial#beritalampura

Menyentuh Hati Lansia Bukan Hanya dengan Rasa

<i>Menyentuh Hati Lansia Bukan Hanya dengan Rasa</i>
Nusriyah menyisir rambut Surkiyah, 84, lansia desa setempat. Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co): "Saya dandani dulu ya mbah, biar terlihat cantik. Siapa tahu dapat jodoh," canda Nusriyah, pembina Bina Keluarga Lansia (BKL) Gesang, Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, usai memandikan, Surkiyah, 84, warga desa setempat, Jumat, 20 Desember 2019.

"Apa masih laku, nduk," jawab Surkiyah nenek dengan 7 anak, 17 cucu, dan 10 cicit itu sambil tersenyum kecil. 

"Ya masih dong mbah," kata Nusriyah, tertawa sambil menyisir rambut Surkiyah.

Petikan pembicaraan itu, terlontar saat kunjungan rutin pembina BKL Gesang pada salah seorang lansia binaanya yang sudah tidak dapat mengikuti kegiatan rutin Posyandu Lansia karena usia yang telah merenta.

"Dari 40 anggota BKL, ada tiga lansia selalu saya kunjungi secara rutin dirumahnya. Salah satunya Mbah Surkiyah. Mereka (lansia) sudah mengalami keterbatasan fisik sehingga tidak dapat pergi terlalu jauh dari kediamannya," kata Nusriyah.

Dia mengatakan selama melakukan kunjungan, pembina bukan hanya datang untuk mengajak berbincang. Tetapi mesti memantau kesehatan lansia binaanya. Bila bermasalah, kunjungan berikutnya akan didampingi pihak Puskesmas Kemalo Abung yang telah lama bermitra.

"Saat kunjungan, saya mengajak para lansia berbincang walaupun apa yang kami bicarakan terdengar seperti pembicaraan kanak-kanak. Sebab daya pikir, pendengaran serta penglihatan mereka sudah tidak seperti dulu lagi. Selain itu, saat saya datang dan lansia belum mandi, saya bantu mereka untuk mandi. Saya merawat mereka seperti ibu kandung sendiri," ujarnya.

Kegiatan rutin BKL yang dibentuk pada 2011 lalu sebagai wadah silaturahmi dan sosialisasi, sekaligus pemberdayaan bagi kaum lansia di wilayahnya agar mereka lebih terurus dan produktif.

Menurutnya, pada perkembangannya program BKL Gesang telah memberikan semangat baru bagi lansia untuk terus berkarya dalam keterbatasan fisik serta pemikiran yang dialami.

"Keluhan yang disampaikan para lansia yang terhimpun di wadah ini adalah keberadaan mereka di keluarga dan masyarakat merasa kurang dibutuhkan. Padahal mereka memiliki kelebihan yakni kebijaksanaan. Serta ingin berbuat sesuatu agar didengarkan dan dihargai," kata dia. 

Hal yang unik di BKL Gesang ini adalah media untuk mengumpulkan lansia di wilayah desa melalui pemukulan kentongan. Saat mendengarkan kentongan, mereka (lansia) pasti akan segera berkumpul ke lokasi Posyandu Lansia yang dipusatkan dikediaman Nusriyah.

Di Lampung Utara hanya ada empat kader BKL. Jumlah itu sangat minim untuk mendukung para lansia di wilayah Lampura untuk tetap berkarya serta merasa berguna.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait