#keadilan#korban#salahtangkap

Masihkan Ada Keadilan untuk Marjuni

<i>Masihkan Ada Keadilan untuk Marjuni</i>
Caption; Rutinitas membuat arang yang dilakoni, Marjuni (40) warga Desa Kalicinta, Kecamatan Kotabumi Utara,  korban salah tangkap kasus pembunuhan, di kediamannya, Minggu (13-10-2019). Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


KOTABUMI (Lampost.co): Hari telah senja, waktu menunjuk pukul 16.00. Sementara Marjuni (40) warga Desa Kalicinta, Kecamatan Kotabumi Utara, korban salah tangkap kasus pembunuhan, di kediamannya, Minggu, 13 Oktober 2019 secara lirih berkata, "Masihkan ada keadilan untuk saya, yang hanya sebagai rakyat kecil". 

"Pasca menjalani hukuman sembilan bulan penjara di Rutan Kelas II B Kotabumi, Lampung Utara, atas tuduhan kasus pembunuhan terhadap seorang ibu dan anak gadis, sontak kehidupan keluarganya berubah," kata Marjuni.

Selama di tahanan sampai dibebaskan dari tuduhan pun, ia,  Istri dan dua anak, yakni Siti Mardiah (16) dan Maya Pertiwi (6) mesti menanggung beban berat karena fitnah yang dituduhkan. Bahkan keluarganya di desa, ikut dikucilkan karena dicap sebagai keluarga pembunuh.  Belum lagi selama menjalani tahanan, ke dua buah hatinya terpaksa putus sekolah karena tidak memiliki biaya. 

"Saya trauma menjadi buruh koret lagi dan sekarang saya usaha membuat arang yang dikerjakan di depan rumah, hasilnya yang di dapat memang tidak banyak, namun hanya inilah yang bisa saya kerjakan pasca bebasnya saya dari tuduhan yang disangkakan," kata dia. 

Disinggung permohonan gugatan praperadilan ganti rugi atas kasus salah tangkap di PN Kotabumi yang ditolak Majelis Hakim setempat, Rabu, 9 Oktober 2019 lalu, dia mengaku sangat kecewa. Sebab, dalam proses tersebut, bukan hanya bicara kerugian materi yang dialaminya selama masa penahanan. Tapi, pada gugatan tersebut, ia juga berharap nama baiknya dipulihkan dari stigma buruk masyarakat. 

"Saya hanya ingin, pelaku pembunuhan tersebut dapat segera ditangkap dan nama saya kembali pulih di mata masyarakat. Selain itu saya berharap aparat penegak hukum bisa bekerja secara profesional sehingga keadilan bagi semua orang bukan sebatas slogan," tutur lirih.

EDITOR

Yudhi Hardiyanto

loading...




Komentar


Berita Terkait