#didikempot

Lord Didi

( kata)
<i>Lord</i> Didi
Didi Kempot. dok

Wandi Barboy
Wartawan Lampung Post

BUMI Nusantara berguncang. Langit lini massa di media sosial riuh rendah dan memberikan penandanya. Tagar Didi Kempot dan Sobat Ambyar berduka menjadi trending topic di Twitter. Semuanya itu hendak mengabarkan maestro campursari Indonesia telah berpulang ke pangkuan Ilahi di RS Kasih Ibu di Solo, Selasa (5/5).

Pemilik nama asli Dionisius Prasetyo yang populer dengan nama "Didi Kempot" ini adalah sang fenomenal nan legendaris. Kempot sendiri adalah sebuah akronim untuk Kelompok Penyanyi Trotoar. Betapa ia sangat membumi sejak dari nama yang disandang dan menjadi pilihannya dalam bertarung di palagan musik Tanah Air.


Bapak Patah Hati Nasional, The Godfather of the Broken Heart, The Lord of Ambyar, dan seabrek julukan lainnya yang disematkan kaum milenial adalah simbol bahwa dia amat termasyhur di kalangan anak-anak milenial. Bagi Sobat Ambyar, komunitas pencinta lagu Didi Kempot yang fanatik, mereka menjuluki idolanya dengan gelar kehormatan "Lord", tepatnya Lord Didi.

Ketika mendengar dan mendendangkan lagu-lagunya, aura patah hati begitu kentara. Patah hati menjadi kunci dari lagu-lagu Lord Didi. Sejumlah lagu seperti Pamer Bojo, Suket Teki, Sewu Kutho, Cidro, Kalung Emas, dan lainnya teramat menghipnosis para penggemarnya. Tua dan muda menyanyikan tembang Jawa. Pada titik ini, hiduplah budaya Jawa yang selama ini banyak ditinggalkan anak muda Jawa.

Poin inilah yang mesti diteladani seluruh seniman Tanah Air. Industri musik Tanah Air yang banyak terpengaruh musik dari negara asing seperti AS, Korea Selatan, Jepang, dan sebagainya mesti berpikir ulang untuk membuang jauh-jauh tembang berbahasa daerah dari kalangan milenial. Penggemar jenis musik ini pun tidak bisa dikatakan minim.

Karena Lord Didi, campursari melanda Nusantara. Saya teringat dengan tulisan Sindhunata, budayawan sekaligus rohaniwan di Kompas dengan judul besar: Ambyar. 

Menurut Romo Sindhu, ambyar itu merasuki segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Barangkali itulah yang mewakili perasaan segenap lapisan dari kalangan paria hingga Istana. Tidak heran jika lagu-lagu Lord Didi begitu mengena di hati. 

Fenomenalnya Lord Didi selama satu-dua tahun terakhir seakan menunjukkan perjuangan dan hidup yang konsisten dan istikamah di jalan budaya adalah laku yang tidak pernah berkhianat. 
Ia telah berada di puncak kariernya. Di puncak kejayaan itu pula, ia mesti kembali kepada Sang Khalik. Selamat jalan, Lord Didi. n

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar