#feature#beritapesibar#perikanan

Landak Laut Penyambung Nafkah Keluarga di Pantai Labuhan Jukung

( kata)
<i>Landak Laut Penyambung Nafkah Keluarga di Pantai Labuhan Jukung</i>
Wati, saat membuka cangkang landak laut untuk diambil dagingnya di Pantai Labuhan Jukung. Lampost.co/Yon Fisoma


Krui (Lampost.co): Menjelang senja itu suasana sepi, semilir angin sepoi dan suara deburan ombak terdesir di Pantai Labuhan Jukung, Pesisir Tengah.

Seolah tidak menghiraukan suasana, seorang wanita paruh baya mengayunkan sebilah logam tajam yang ia pegang, secara teratur satu persatu landak laut atau yang juga biasa disebut bulu babi yang ada disampingnya itu dipecahkan.

Usai dipecah, isi landak laut tersebut dibuang yang berwarna hitam dan diambil cairan sejenis lemak daging berwarna putih kekuningan. Kemudian ditampung dalam sebuah toples kecil. Demikian berulang-ulang ia lakukan pekerjaan tersebut hingga toples tersebut penuh daging landak laut.

"Takarannya toples ini. Kalau sudah penuh dipindahkan ke dalam kantong plastik. Satu kantong plastik saya jual Rp20 ribu," kata perempuan bernama Wati itu.

Wati mengatakan daging landak laut yang dia dapatkan biasanya dibeli oleh tukang gorengan untuk dibuat bakwan. Ada juga warga yang membeli untuk dimakan langsung bersama nasi.

"Ya kadang banyak dapat ngumpulin munil (sebutan daging landak laut), kadang sedikit. Nyarinya waktu laut surut," perempuan berusia 50 tahun itu.

Terlihat Ia bersama rekannya yang juga seorang ibu-ibu baru menghasilkan dua kantong plastik daging atau isi landak laut tersebut.

Pesisir Barat, sepanjang wilayahnya berbatasan dengan laut. Potensi besar perikanan terbentang. Berbagai lapisan masyarakat bukan hanya pria tetapi perempuan juga bisa mencari nafkah dari keberadaan laut yang ada.

Namun penangkapan dan pengelolaan pemasaran yang masih semi tradisional menyebabkan berbagai potensi itu belum tergarap maksimal.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...


Berita Terkait



Komentar