lobsterkrui

Kisah Pengusaha Lobster di Teluk Kuala Stabas

( kata)
<i>Kisah Pengusaha Lobster di Teluk Kuala Stabas</i>
Lokasi pedagang jual beli lobster di Kelurahan Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Barat. Lampost.co/Yon Fisoma

Krui (Lampost.co) -- Beberapa pekerja tampak sibuk mengangkat drum plastik ke mobil los bak L 300 yang parkir di halaman rumah berdekatan dengan pelabuhan teluk Kuala Stabas, Kelurahan Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Barat. Tempat tersebut merupakan area jual beli lobster.

Pemilik usaha sekaligus pemilik rumah tersebut Rafky Hidayat (44), Kamis, 9 Juli 2020 mengaku, saat ini kondisi lobster di lapaknya sedang kosong. 

 "Lobster kan ada musim-musimnya. Ada kalanya kalau lagi ramai dari bulan September sampai akhir tahun, dalam setiap tahunnya.  Kalau kondisi sekarang boleh dibilang agak sepi," kata Rafki yang telah 10 tahun menggeluti usaha tersebut.

Dalam satu bulan biasanya ia mampu mengirim lobster ke Jakarta dari 300 kg hingga 500 kg.

"Dalam sebulan mungkin sekitar empat kali pengiriman ke Jakarta. Setiap bulan kan ada musim terang bulan atau bulan purnama. Ssaat terang bulan, lobster tidak keluar dari rumahnya,” tuturnya.

Pada waktu itu,  nelayan memang sengaja istirahat untuk merawat alat jaring dan menghemat pengeluaran bahan bakar dan operasional. Biasanya, seminggu sampai 10 hari nelayan beristirahat. “Kalau dipaksakan mencari juga kondisi memang sepi karena lobstrer tidak keluar rumahnya," kata Rafky.

Ia mengira berkurangnya populasi lobster karena ekploitasi terus menerus secara besar-besaran. Selain itu,  pengambilan lobster menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

"Untuk harga lobster saat ini kami beli dari nelayan berkisar Rp200 ribu per Kg (kondisi lobster hidup-red). Kalaujual ke Jakarta. Seperti tahun baru atau  Imlek,  harga lobster bagus," kata dia.

Selanjutnya, menanggapi pemerintah yang akan melegalkan penangkapan benur, Rafky menilai hal itu telah memperhitungkan dengan matang sebelum mengeluarkan suatu aturan.

"Tentang peraturan menteri (permen)  di satu sisi mungkin menguntungkan nelayan bertambah mata pencarian mereka. Namun, di sisi lain katanya sih mungkin akan memusnahkan lobster. Pada dasarnya laut ini  milik kita bersama,” imbuhnya.

Menurutnya, jika regulasi tersebut mengatur tentang pengelolaan lobster dengan baik maka ia tidak keberatan.  “Tergantung cara pandang kita saja. Kalau untuk memperkaya diri sendiri tentu tidak bagus.  tetapi kalau untuk berbagi bermanfaat untuk orang banyak mengapa tidak. Dengan tetap ikut aturan main dari negara karena negara juga sudah pasti memperhitungkan manfaat dan kemaslahatannya  untuk masyarakat," kata dia. 

Sejauh ini, Rafky mengaku tidak pernah mengalami kendalam berarti selama berbisnis lobster. Hanya saja saat jumlah lobster sedang banyak namun tidak seimbang dengan pembeli.

“Bisnis ini juga semakin banyak yang menjalani karena pembeli juga makin banyak jadi persaingan makin ketat kompetisi dagangnya lebih bagus dan harganya juga terangkat dari bawah. Kendala juga untuk pedagang mungkin kematian udang lobster, perizinan seperti mungkin kalau naik kapal kadang antri , kalau momen tertentu seperti tahun baru kita harus antri naik kapal (di pelabuhan bakauheni-red), sementara kami kan butuh waktu cepat untuk ngirim lobster ini," papar Rafky.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar