#kecelakaanlaut#ombakbesar

Kepedulian Nelayan Selamatkan Jas Budaya dan Adiknya

<i>Kepedulian Nelayan Selamatkan Jas Budaya dan Adiknya</i>
Jas Budaya, nelayan Pantai Labuhan Jukung, Kecamatan Pesisir Tengah, Krui, Pesisir Barat , yang selamat setelah mengalami kecelakaan laut. Lampost.co/Yon Fisoma


Krui (Lampost.co) -- Terik matahari menyinari Pantai Labuhan Jukung, Pekon Kampung Jawa, Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Barat, siang menjelang sore waktu itu. Lambaian pohon pisang ditambah semilir embusan angin laut menemani kelimunan warga yang memenuhi kediaman dua nelayan yang selamat dari keganasan ombak laut, Jas Budaya (50) dan adiknya Sahrudin (43).

Sejumlah pria duduk di teras depan rumah yang terbuat dari papan itu. Mereka terlihat mengobrol sambil mengisap rokok berbagai merek sambil menyeruput kopi. Sesekali berdiri menyambut tamu sanak saudaranya yang datang dari Ranau, Lampung Barat, Pugung, dan warga sekitar yang hendak menengok kondisi keluarga itu. 

"Kalau dibilang sehat belum pulih benar, badan masih terasa lemas," kata Jas Budaya kepada Lampost.co, saat ditanya kondisinya, Minggu, 15 November 2020. 

Dia menceritakan kronologis peristiwa yang dialaminya mulai awal melaut, kejadian yang menimpanya hingga diselamatkan kapal besar, dan kembali pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga. 

 "Ya, meskipun pandemi corona, kebutuhan hidup harus terus terpenuhi. Kami berdua tetap melaut meskipun mengetahui saat ini sering terjadi cuaca ekstrem di tengah laut," kata ayah dua orang anak tersebut. 

Dia dan adiknya Sahrudin melaut mulai Rabu petang, 11 November 2020, untuk mencari ikan di laut Pekon Walur, Kecamatan Krui Selatan, yang berjarak sekitar satu mil dari bibir pantai. Namun, gelombang besar datang dan mengempas perahunya hingga terbalik. Keduanya pasrah duduk di atas perahu yang membawa keduanya terseret arus ke tengah laut.  

"Perkiraan saya terseret sekitar 29 mil dari bibir pantai kita atau sekitar 15 mil dari bibir pantai laut Bintuhan, Bengkulu. Setelah itu kami diselamatkan awak kapal barang, KM Bahari yang melintas. Kapal itu dari Jakarta mau ke Aceh dan saat itu dalam perjalanan kembali ke Jakarta," ujar Jas. 

Selanjutnya atas permintaan sendiri karena memang kondisi perahunya masih bagus, dia dan Sahrudin meminta untuk diturunkan di Pulau Pisang. "Memang salah saya juga karena minta ke awak kapal untuk diturunkan di dekat perairan Pulau Pisang. Sama mereka diturunkan di pulau yang enggak tahunya bukan Pulau pisang, tetapi pulau yang ada di wilayah Bengkulu. Kata awak kapal kepada saya nanti ada kawan kami yang menjemput. Tetapi karena salah lokasinya, setelah ditinggal kapal besar itu ya kami kembali terkatung-katung di tengah laut," kata dia yang diiyakan adiknya, Sahrudin yang lebih memilih diam dan ikut apa saja yang disampaikan kakaknya. 

Beruntung keduanya ditemukan nelayan Krui yang melakukan pencarian hingga tengah laut. "Yang pertama menemukan kami Pak buyung Em, nelayan Krui dan beberapa nelayan lainnya. Alhamdulillah akhirnya kami diselamatkan. Kalau trauma ya gimana karena peristiwa ini pertama kali terjadi menimpa saya. Tetapi bagaimana lagi saya sudah mendarah daging main laut. Ini juga tentang memenuhi nafkah keluarga, kalau enggak melaut bisa tumpah periuk nasi kita," katanya. 

Abrar, keluarga Jas budaya, mengungkapkan kekecewaannya dengan kinerja BPBD dan Basarnas yang dinilai hanya mendompleng nama dalam upaya penyelamatan dua bersaudara itu. 

"Yang bekerja menyelamatkan kedua saudara saya ini adalah nelayan khususnya Pak Buyung Em dan Rusmansyah. Mereka berkorban perahu dan uang untuk mencari kedua saudara saya ini.
Kami keluarga merasa kecewa dengan kinerja BPBD Pesisir Barat dan Basarnas karena seakan mendompleng nama yang kerja itu mereka, padahal tidak seperti itu," katanya.

Dia mencontohkan pada waktu akan dilakukan pencarian terhadap saudaranya itu rencananya menggunakan kapal Banawa yang ada di Pelabuhan Kuala Stabas Krui. Namun, kapal itu tidak ada bahan bakar dan koordinasi antara OPD, Dishub, dan BPBD juga tidak ada kejelasan.

"Kalau seperti itu terus bisa hilang betulan kedua saudara saya tersebut. Akhirnya, kami memutuskan tetap melaut, Bapak Rusmansyah memberikan uang Rp1 juta untuk beli bahan bakar dan operasional sehingga dua perahu mesin dapat digunakan untuk mencari kedua saudara saya ini," katanya. 

Dengan kedua perahu kecil bermesin itu, Jas Budaya dan Sahrudin ditemukan di tengah laut yang berjarak sekitar 35 mil dari bibir pantai Pelabuhan Kuala Stabas Krui atau sekitar 15 mil dari bibir Pantai Manna, Bengkulu.  

"Mana informasinya beberapa mesin kapasitas 15 PK ada di BPBD, tapi kok enggak diturunkan mencari korban. Malah pencariannya menggunakan perahu nelayan yang dananya juga sumbangan nelayan," katanya.

Dia mengaku dihubungi awak kapal besar yang menyelamatkan kedua nelayan itu. "Ya memang saya yang dihubungi awak kapal KM Bahari yang memberi tahu dua nelayan Krui yang mereka selamatkan. Kebetulan keponakan saya menjadi salah satu awak kapal itu. Setelah itu saya sebar nomor ponsel keponakan saya itu kepada beberapa orang termasuk Pak Buyung dan Rusmansyah agar dapat berhubungan langsung untuk upaya penyelamatan Jas Budaya dan Sahrudin," ujarnya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait