#hama

Kegalauan Petani Kopi Lampura Hadapi Hama Kutu Penggerek Buah

<i>Kegalauan Petani Kopi Lampura Hadapi Hama Kutu Penggerek Buah</i>
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abungtinggi, Subagio, menunjukkan buah kopi yang terserang kutu penggerek buah kopi (PBKo) di desa setempat, Senin, 3 Februari 2020). Lampost.co/Yudhi Hardiyanto


Kotabumi (Lampost.co) -- Serangga yang bentuknya mirip kutu beras itu berukuran kecil dan mungil dengan berwarna cokelat menyerang buah kopi yang mulai demegan (setengah masak). Hama yang hanya muncul kala kopi telah mulai berbuah disebut para petani kopi kutu penggerek buah kopi (PBKo).

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulyasari, Desa Sidokayo, Kecamatan Abungtinggi, Subagio, mengatakan kalau sebelum tanaman kopi berbuah atau kopi masih mentah atau kecil, hama itu tidak terlihat. Tapi begitu buah demegan (setengah masak), hama akan muncul dan mulai menyerang buah kopi.

"Kutu PBKo hanya menyerang buah kopi yang mulai masak dengan melubangi buah tersebut. Setelah itu, buah kopi akan membusuk dan gugur. Serangan tidak berhenti di situ, kutu PBKo yang ada pada buah kopi akan keluar dan kembali menyerang buah lain yang sehat," ujarnya, Senin, 3 Februari 2020.

Penanggulangan serangan hama yang mulai menyerang pada Januari 2020 ini sudah dilakukan dengan menyemprotkan insektisida. Hanya saja, metode penanggulangan ini dinilai kurang efektif dan berdampak pada lingkungan.

"Hama kutu tidak musnah, Mas. Kami berharap instansi terkait segera turun untuk memberikan solusi cara penanggulangan hama tersebut," katanya.

Lahan kopi di wilayah Desa Sidokayo, Kecamatan Abungtinggi, yang sudah terserang hama tersebut sekitar 30 persen sampai 40 persen. "Kutu PBKo terlihat merayap di buah kopi yang masih muda, Mas, dan kami berupaya membasminya. Sebab, sekitar Mei 2020 mendatang, lahan kopi di sini diperkirakan akan panen raya. Jika hama tidak tertanggulangi sebelum masa panen, diperkirakan produktivitas hasil panen kopi akan anjlok sekitar 30 persen sampai 40 persen. Itu yang membuat para petani kopi di sini galau," katanya lirih.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait