#kolamgaliantambang#bocahtenggelam#lokasitambang

Bekas Kerukan Alat Berat Pembawa Maut

( kata)
<i>Bekas Kerukan Alat Berat Pembawa Maut</i>
Kubangan bekas galian tambang yang merenggut nyawa tiga bocah warga Kampung Kecapi, Campang Jaya, Sukabumi. Lampost.co/Asrul Septian Malik

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Siang itu, Rabu, 24 Juni 2020, di pinggir jalan terlihat dua buah gerbang berwarna hijau yang sudah pudar dalam keadaan terbuka sehingga bisa diakses ke luar masuk. Memasuki gerbang tersebut, terlihat sebuah rumah makan di sebelah kiri.

Di sana terlihat para pria paruh baya sedang santai, beristirahat atau bahkan mengobrol. Di seberang dan samping rumah makan tersebut, terlihat beberapa truk yang terparkir.

Kemudian, di lahan yang luas tersebut terdapat jalan setapak yang biasa dilalui kendaraan. Ketika ditelusuri lahan tersebut, akan terbagi menjadi dua jalur.

Satu jalur lurus ke kiri, kerap dilalui kendaraan truk berwarna-warni yang hilir mudik memuat batu dan tanah dari ujung lokasi tersebut, yakni bukit yang ditambang seseorang bernama Kardoyo.

Kemudian, jika berbelok ke kiri, langsung terlihat semacam waduk atau embung. Di situlah tiga bocah, yakni Putra, Nopan, dan Iman alias Reno  Julian, warga Kampung Kecapi, Campang Jaya, Sukabumi, harus meregang nyawa karena tenggelam, Selasa, 23 Juni 2020 lalu, ketika bermain bersama empat rekannya.

Saat rekannya asyik memancing, ketiganya memilih berenang. Di tengah kubangan air tersebut terdapat beberapa rumput yang cukup lebat. Di situlah, ketiganya tenggelam.

Sedangkan di bagian atas bekas galian tersebut kini sudah dipasang garis polisi yang menandakan tempat anak-anak melompat lalu berenang dan juga memancing.

Jika dilihat, kubangan air tersebut seperti bekas kerukan alat berat di bagian ujungnya sehingga seperti bukit. Kemudian di dekat kubangan tersebut juga tampak bukit-bukit yang sudah menipis karena dikeruk.

Namun, tidak ada sama sekali aktivitas tambang di titik tersebut.

Salah satu sopir pengangkut hasil tambang, Yanto mengatakan ketujuh bocah tersebut tidak masuk melalui pintu gerbang utama. Mereka diduga masuk diam-diam melalui jalur lain.

"Ini kan gerbangnya cuma satu, kadang bocah-bocah memang masuk, mereka kadang lewat ladang. Kemarin kan sudah dimarahin sampai saya lempar batu malah, supaya jangan berenang. Eh mereka malah pindah," katanya.

Yanto memaparkan bersama rekan-rekannya bekerja sebagai pengangkut batu dan tanah yang dipesan warga atau pengecer. Mereka membeli dari Kardoyo satu truk penuh Rp40 ribu dan dijual lagi dengan harga yang berbeda ke pemesan. "Iya kadang ramai, kadang sepi, Bang," katanya.

Menurut Yanto, bagian galian yang tergenang tersebut bukan milik Kardoyo. Namun, ia tak mengetahui persis siapa pemilik lahan tersebut.

Bekas galian di sekitar tempat bocah tenggelam sudah tidak dijadikan tempat menambang dan tidak ada aktivitas bongkar muat. "Kalau yang kolam itu dan ke sananya, memang sudah enggak ada, sudah enggak lagi (ditambang). Kami pakai cuma nyuci mobil saja. Dulu juga sekitar 2 tahun yang lalu, sudah ditutup pakai seng, cuma ada saja yang buka. Itu juga katanya dah dijual ke orang, jadi bukan punya pak Kardoyo," ujarnya.

Yanto menyatakan kolam tersebut hanya terisi saat musim hujan saja dan kedalaman di bagian tengah bisa mencapai 3 meter bahkan lebih. "Kalau kemarau kering, Bang," katanya.

Kapolsek Sukarame Kompol Evinater Sialagan mengatakan dalam waktu dekat akan memanggil pemilik lokasi tambang batu Kardoyo dalam waktu dekat. "Keterangan pemilik tambang akan dilakukan dalam waktu dekat, namun kami mau minta keterangan keluarga korban dulu, kemarin belum rinci karena masih berkabung," ujarnya.

Menurut di, pemanggilan untuk diketahui asal muasal tersebut apakah waduk atau bekas galian. "Termasuk kami mendalami apakah ada kelailain dari pemilik atau dari korban. Seharusnya kan perusahaan punya satu akses pintu gerbang (pintu masuk)," katanya.

Informasi yang didapat Lampost.co, tambang tersebut memiliki izin dan terdaftar di Dinas ESDM Pemprov Lampung.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...

Berita Terkait

Komentar