#huniantetap#huntara#korbantsunami#beritalamsel

Hunian Tetap untuk Korban Terdampak Tsunami Dibangun April 2020

Hunian Tetap untuk Korban Terdampak Tsunami Dibangun April 2020
Hunian sementara di Desa Banding, Lampung Selatan. Foto: Dok


Kalianda (Lampost.co): Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupatan Lampung Selatan akan mulai membangun hunian tetap (Huntap) untuk korban terdampak tsunami pada April 2020 mendatang.

Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan M.Darmawan mengatakan hingga kini tengah dilakukan desain bentuk Huntap oleh konsultan. Selain itu, tengah dilakukan penghitungan kebutuhan untuk pembangunan Huntap tersebut.

"Ini dilakukan karena anggaran yang disiapkan untuk tiap Huntap sebesar Rp50 juta. Nah, konsultan lah yang bisa mendesainya nanti bentuk rumahnya seperti apa dengan tipe 36," ujar dia, Rabu, 26 Februari 2020.

Darmawan menjelaskan pekerjaan Huntap akan dilakukan oleh kelompok masyarakat (Pokmas). Ini dilakukan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar.

"Jadi, masyarakat sekitar yang statusnya tukang bisa ikut bekerja dalam pembangunan Huntap tersebut. Sehingga masyarakat sekitar dapat diuntungkan. Bisa saja pembangunan Huntap diborongkan kepada rekanan (kontraktor,red). Tapi, kan kasihan masyarakat sekitar tidak diperdayakan," kata dia.

Untuk pola pembangunan Huntap, kata dia, hampir sama dengan pembangunan bedah rumah program dari Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperkim). Dimana, korban terdampak tsunami yang mendapatkan Huntap menerima kucuran dana Rp50 juta.

"Jadi, nanti yang mencairkan uangnya adalah pemilik toko material yang ditunjuk oleh Pokmas. Dengan cara seperti itu, orang yang mendapatkan bantuan Huntap tidak bisa menggunakan uang tersebut sekehendaknya," kata dia.

Dia juga mengatakan dengan uang Rp50 juta tersebut penggunaanya telah diatur yakni Rp45 juta untuk kebutuhan material bangunan Huntap dan sisanya Rp5 juta untuk upah para pekerja bangunan.

"Kami berharap pembangunan Huntap untuk para korban tsunami dapat terealisasi dengan baik," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait