perhotelanbandarlampung

Hotel Kelas Melati di Lampung Minta Digolongkan UMKM

Hotel Kelas Melati di Lampung Minta Digolongkan UMKM
Pixabay


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sejumlah hotel kelas melati yang ada di Bandar Lampung mengeluhkan pemasukan yang merosot. Bahkan, tak hanya ditengah pandemi saja, karena sejak bermunculannya hotel murah berbasis aplikasi yang mulai menjamur di Kota Tapis Berseri membuat hotel di bawah kelas tiga itu kesulitan mendapatkan pemasukan.


Seperti salah satu hotel di Jalan Teuku Umar yang tak ada pemasukan. Sehingga hotel melati tersebut mengusulkan untuk dijadikan Usaha Menengah Kebawah (UMKM). 

Misalnya, kebijakan soal upah yang menurutnya tidak bisa disamaratakan terhadap semua jenis hotel. "Di sini ini kalau mengikuti Upah Minimum Provinsi (UMP) yang akan hancur itu adalah sektor-sektor hotel yang kecil seperti kita, yang komponen penghasilannya di bawah," ujar Ratna,  Manager Hotel Sari Damai kepada Lampost.co, Jum'at, 26 November 2020.

Menyikapi hal tersebut, Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Lampung mengatakan bahwa investasi hotel dibawah bintang tiga sudah ada investasi sehingga belum tepat jika ada usulan UMKM. 

"Investasi bintang tiga saat ini per kamar minimal Rp250 juta kalau misalnya 80 kamar investasinya sudah Rp20 hingga Rp25 miliar. Kalaupun dijadikan UMKM, menurut saya urgensinya belum terlihat," jelas Sekretaris BPD PHRI Lampung, Friandi Indrawan.

Ia menduga hotel dikategorikan sebagai UMKM dengan tujuan agar mendapatkan keringanan pajak. Menurutnya, masalah yang dihadapi saat ini yaitu menurunnya jumlah tamu untuk menginap. Bukan karena tidak kerjasama dengan hotel yang saat ini sedang booming seperti OYO dan Redoorz. 

"Saat pandemi ini lebih baik jangan dijadikan satu tolak ukur, nampaknya tidak tepat. Prediksi saya awal tahun depan akan kembali normal lagi. Saat ini hotel dan restoran hanya bisa berharap dan menunggu," katanya.

Menurutnya, stimulus yang diberikan pemerintah baik di pusat atau daerah cukup membantu meringankan beban operasi hotel dan restoran. Agar pengeluaran semakin efisien, pihak hotel merumahkan sementara  karyawannya, sehingga anggaran gaji dapat dialihkan ke operasional lainnya sampai keadaan kembali normal.

"Kecuali jumlah kamarnya di bawah 50 itu mayoritas masuknya ke dalam komponen penghasilan di bawah Rp4 miliar. Mungkin bisa masuk ke komponen UMKM tapi tetap harus melalui kajian," terangnya. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas


loading...



Komentar


Berita Terkait