#DBD#LAMPUNG

Hingga Agustus 2022, DBD di Lampung Capai 3.484 Kasus

Hingga Agustus 2022, DBD di Lampung Capai 3.484 Kasus
Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat dari Januari hingga Agustus 2022 terjadi 3.484 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Lampung. Daerah terbanyak yakni Kota Bandar Lampung.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Reihana, mengatakan kasus terbanyak Kota Bandar Lampung dengan jumlah mencapai 1.207 orang.

"Untuk daerah lain yang masih kategori banyak kasusnya yakni Lampung Tengah sebanyak 326 orang, Pesawaran 318 orang, Tulangbawang Barat 255 orang, Pringsewu 218 orang, Lampung Timur sebanyak 198 orang," kata Reihana, Minggu, 18 September 2022.

Kemudian Lampung Selatan tercatat ada 185 orang, Tanggamus 181 orang, Tulangbawang 160 orang, Way Kanan 115 orang, Lampung Utara 93 orang, Mesuji 85 orang, Metro 55 orang, Pesisir Barat 54 orang dan Lampung Barat 34 orang.

"Penambahan kasus terbanyak terjadi pada Januari yakni 906 orang kemudian Februari ada 587 orang dan Maret 281 orang. Ini memang merupakan bulan saat musim penghujan tiba dan frekuensi hujan yang cukup tinggi," kata dia.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan masif dan kerjasama bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota guna memastikan masyarakat disiplin dalam menerapkan 3M dan satu rumah memiliki satu jumantik.

"Tim surveilan juga kami ketatkan. Mereka harus kerjasama dengan Rumah Sakit agar melaporkan dalam waktu 24 jam ke Dinas Kesehatan agar setiap kasus atau suspect DBD untuk dilakukan investigasi segera," kata dia.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Provinsi Lampung, Ismen Mukhtar meminta kepada aparat desa hingga tingkat terendah seperti RT dan RW untuk ikut terlibat dalam melakukan deteksi kasus DBD.

"Karena aparat desa seperti RT dan RW dapat menjadi agen atau pemimpin dalam melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan menggunakan 3M plus," katanya.

Menurutnya penyakit DBD merupakan penyakit musiman yang dapat dicegah dengan berbagai langkah. "Jadi aparat desa harus ikut terlibat dalam penanganan secara dini. Karena ini tidak bisa jika hanya mengandalkan petugas kesehatan saja," kata dia.

EDITOR

Deni Zulniyadi


loading...



Komentar


Berita Terkait