feature

Hidup Sebatang Kara, Kakek Raden Intan Tinggal di Gubuk Terpal

( kata)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Seorang kakek yang mengaku berusia 102 tahun hidup sebatang kara di sebuah gubuk yang tak layak di pinggir Jalan Sultan Agung, Wayhalim, Bandar Lampung.

Bahkan untuk bertahan hidup kakek yang diketahui bernama Raden Intan harus makan dari pemberian orang yang melintas di jalur dua Wayhalim atau tak jauh dari flyover, dan mengandalkan usaha dagangannya yang menjual rokok serta makanan ringan.

Raden mengaku sebelum tinggal di gubuk tak layak. Di mana bagian atap ditutup hanya dengan terpal berwarna biru, dan diikatkan ditumpukan kayu. Ia pernah mengontrak rumah bersama keluarganya di Sukarame, Bandar Lampung.

"Saya ini lahirnya dulu di Menggala, Kabupaten Tulangbawang, sekarang usia saya 102 tahun. Waktu saya masih sama keluarga tinggalnya nggak jauh dari sini, masih di sekitaran Sukarame, tapi waktu itu rumah di sana kebakaran, nggak ada barang apapun yang bisa diselamatkan," ujarnya saat ditemui di lokasi, Sabtu, 20 Juni 2020.

Selang beberapa tahun, setelah rumahnya terbakar, Raden mengungkapkan, ia harus bercerai dengan istri. Sedangkan anak-anaknya pun meninggalkannya, sehingga dirinya terpaksa hidup seorang diri.

"Saya dulu tinggal pindah-pindah dan untuk makan sehari-hari saya dagang apa saja yang penting cukup buat makan. Terus akhirnya saya dapat tempat tinggal di gubuk ini yang saya buat sendiri," kata dia.

Ia pun mengaku, tinggal di gubuk di jalur dua Way Halim ini baru beberapa bulan. Untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan buang air besar, ia harus naik ojek ke pasar Way Halim.

"Baru sekitar empat bulan tinggal di sini, kalau untuk mandi saya naik ojek bayar Rp10 ribu pulang pergi ke Pasar Way Halim. Sedangkan untuk air minum saya beli juga," ungkapnya.

Meskipun hanya tinggal sendirian tanpa sanak saudara, Raden tetap tabah dalam menjalani kehidupan. Bahkan untuk bertahan hidup ia pun berjualan makanan ringan dan rokok.

"Lumayanlah hasil jualan sehari bisa dapat Rp17 ribu sampai Rp25 ribu, tapi saya juga sering dapat bantuan makan dari orang-orang yang lewat sini," paparnya.

Dia juga berharap bantuan dari pemerintah agar dapat menempati rumah yang layak tinggal buat dirinya serta diberikan usaha untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

"Kalau ada bantuan dari pemerintah jelas saya nggak nolak. Waktu itu juga ada bantuan dari pemerintah kasih sembako saja," terangnya.

Sementara itu, Hambali (40), warga sekitar mengatakan, bahwa kakek sapaan akrabnya Raden Intan kurang lebih sudah satu tahun tinggal di gubuk yang tidak layak ini.

"Bohong kalau kakek bilang sudah empat bulan tinggal di situ, dia itu sudah hampir satu tahun tinggal di situ. Soalnya saya sering lewat sini," kata Hambali.

Dia menambahkan, sebelum tinggal di sini, kakek tersebut pernah terlihat berjualan mainan anak-anak di Jalan Soekarno Hatta, Bypass, beberapa waktu lalu.

"Yang saya tahu kakek ini usahanya apa saja, dia juga di sini memang tinggal sendirian. Saya juga kurang tahu keluarganya di mana," pungkasnya.

EDITOR

Winarko

loading...


Berita Terkait



Komentar