#hargasingkong#petanisingkong#beritalampura

Harga Singkong Merosot, Harapan Petani di Lampura untuk Sejahtera Kandas

Harga Singkong Merosot, Harapan Petani di Lampura untuk Sejahtera Kandas
Panen singkong di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Sungkai Barat, beberapa hari lalu. LAMPUNG POST/YUDHI HARDIYANTO


Kotabumi (Lampost.co): Memasuki musim penghujan saat ini adalah tiba masanya memanen singkong bagi para petani di wilayah Lampung Utara.

Masa tanam singkong yang ditanam satu tahun yang lalu untuk varietas kasesa dan tujuh bulan untuk varietas thailand mesti segera di cabut. Bila tidak, umbi singkong terancam busuk. Di lain sisi, petani di Kabupaten Lampung Utara juga dihadapkan pada dilema akan posisi nilai tukar komoditas singkong yang rendah. 

"Di musim penghujan, petani singkong tidak bisa menunda masa panen, karena risikonya umbi singkong akan busuk di tanah. Sementara bila kami panen, harga singkong saat ini kembali terpuruk," ujar Najamudin Taha, petani singkong warga prokimal, Kecamatan Kotabumi Utara, saat ditemui Lampost.co, dikediamannya, Minggu, 11 Oktober 2020.

Sebelumnya, kata dia, harga singkong pada Juli 2020 masih Rp900 per kilo. Saat panen awal Agustus 2020 harga turun jadi Rp870 per kilo. September harga masih di kisaran yang sama, sementara saat awal Oktober 2020 anjlok hanya Rp780 per kilo.

"Dengan harga ubi kayu Rp780 perkilo dan posisi petani tidak bisa menunda masa panen karena musim penghujan, maka harapan saya sebagai petani singkong untuk mendapatkan nilai tukar hasil panen yang lebih tinggi kandas dan kami hanya bisa pasrah," kata dia.

Dia mengatakan besaran potongan yang mesti ditanggung petani dari pabrik untuk singkong varietas kasesa sebesar 19 persen dan varietas thailand sebesar 25 persen. Selain itu, di tambah ongkos cabut Rp100 per kilo dan angkut serta mobil Rp100 per kilo.

"Harga singkong di pabrik sama, yang membedakannya adalah besarnya potongan tergantung varietas yang menentukan tinggi rendahnya kadar aci," kata dia.

Soal pendapatan, kata dia, dengan nilai jual Rp780 per kilo untuk singkong varietas thailand yang dia tanam selama 7 bulan dipotong ongkos cabut dan angkut Rp200 per kilo di tambah potongan dari pabrik 25 persen atau sebesar Rp195 per kilo di dapat penghasilan Rp385 per kilo.

"Dengan produktivitas hasil panen per hektar rata-rata 25 ton, maka hasil yang di dapat hanya Rp9.625.000. Pendapatan mesti dikurangi dengan modal mulai dari pembelian pupuk, tanam serta pembersihan lahan berkisar Rp7 juta per ha, maka di dapat hasil bersih Rp2.625.000 per ha," kata dia.

"Saya tidak bisa berharap lebih, karena harga beli selalu diatur oleh pasar dan aspirasi yang berasal dari perwakilan petani disampaikan sebelumnya ke pemerintah daerah maupun ke wakil rakyat sejauh ini belum membuahkan hasil," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait