#sembako#minyakgoreng

Harga Minyak Goreng Tak Bisa Diintervensi, Kukus dan Rebus Jadi Alternatif

Harga Minyak Goreng Tak Bisa Diintervensi, Kukus dan Rebus Jadi Alternatif
Konsumen saat memilih minyak goreng kemasan disalah satu pasar modern di Bandar Lampung. Dok Lampost


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Harga minyak goreng di pasaran masih bertahan tinggi. Masyarakat diminta untuk menggunakan alternatif mengolah makanan pengganti minyak goreng seperti dikukus atau direbus.

Dikutip dari www.siagabapokbandarlampung.id/peta, Selasa, 21 September 2021, di pasar tradisional Bandar Lampung, untuk komoditas minyak goreng curah plastik 1 liter dikisaran Rp14.000 sampai Rp16.000. Sedangkan minyak goreng kemasan 1 liter Rp15.000 sampai Rp18.000.

Baca juga: Pemprov Lampung Diminta Intervensi Harga Minyak Goreng

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, Elvira Ummihani mengatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga minyak goreng tinggi. Harga komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dunia yang grafiknya naik sehingga berpengaruh kepada minyak dalam negeri dan dampak pandemi covid-19 seperti Malaysia lockdown.

"Namanya harga, dipengaruhi oleh harga produksi, barulah permintaan dan penawaran. Terkait biaya produksi, kita tak bisa intervensi. Kalau harga bahan bakunya naik maka harga jualnya juga tinggi," kata Elvira

Kemudian ia mengatakan saat ini permintaan sedang menurun, sementara harga jual ditentukan dari harga produksi. Karena produsen sudah mengeluarkan biaya untuk menghasilkan produknya maka pasar mengikutinya. Pihaknya juga sering melakukan operasi pasar (OP) yang menjual barang kebutuhan pokok sesuai harga pabrik sehingga masyarakat mendapat harga yang murah.

"Dari sisi konsumen, bila masyarakat terlalu banyak mengkonsumsi minyak goreng juga tidak baik. Maka bisa saja dialihkan menggunakan bahan yang sehat dan tidak digoreng seperti mengolah makanan dengan cara direbus atau dikukus," katanya.

Ia mengatakan tingginya harga minyak goreng terasa dampaknya kepada industri kecil atau usaha kecil yang menggunakan bahan baku minyak seperti pedagang gorengan, angkringan dan sebagainya. Namun untuk pengusaha besar tidak terlalu terasa.

"Kita juga akan survei nantinya kepada pihak-pihak pengguna minyak goreng sejauh mana kendalanya," katanya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait