#narkoba#lapas

Hakim Marah Pengedar Ratusan Kilogram Sabu tak Dihadirkan di PN Tanjungkarang

Hakim Marah Pengedar Ratusan Kilogram Sabu tak Dihadirkan di PN Tanjungkarang
Suasana persidangan peredaran ratusan kilogram sabu di PN Tanjungkarang, Senin, 4 April 2022. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Persidangan kasus peredaran ratusan kilogram sabu-sabu dengan terdakwa narapidama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Surabaya, M. Sulton, (31), Muhammad Nanang Zakaria (29), dan M. Razif Hazif (24) digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kelas I A Tanjungkarang, Kota Bandar Lampung.

Agenda sidang tiga terdakwa masuk dalam agenda verbal lisan.

Hakim Ketua Jhony Butar-Butar sempat marah karena sidang hanya dihadiri terdakwa secara online. Padahal, sebelummya majelis hakim sudah meminta ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roosman Yusa untuk menghadirkan terdakwa, namun, tidak ada kejelasan.

Hingga sidang berlangsung pada sore hari, terdakwa pun tidak bisa dihadirkan.

Menurut Jhony, perkara peredaran sabu dalam jumlah besar ini sangat penting untuk bisa mendengar keterangan terdakwa secara jelas. Sebab, persidangan dengan terdakwa daring relatif disertai banyak kendala.

"Tidak ada kejelasan, harusnya kan ada kalau bisa kita sidang offline dari pagi," ujar Jhony, di persidangan, Senin, 4 April 2022.

Baca: Jaksa Ajukan Pembatalan Vonis Seumur Hidup Kurir Sabu Asal Lamsel

 

Senada, kuasa hukum terdakwa Nanang dan Hafiz,  Aman Al Mukhtar, kecewa dengan sikap Ditjenpas Kemenkumham RI yang tidak mengizinkan menghadirkan kliennya secara langsung ke PN Tanjungkarang. Menurutnya, dari informasi yang ia dapat, di salah satu Lapas di Lampung sedang ada kegiatan dan tahanan tidak bisa dikeluarkan.

"Kami merasa dipersulit oleh Ditjenpas, khususnya Kanwil Lampung dan Rutan Bandar Lampung," katanya.

Dalam persidangan tersebut, terungkap keterangan bahwa terdakwa Razif dan Nanang tidak mengenal dan bertemu langsung dengan M. Sulton.

"Kalau M. Sulton, saya enggak kenal. Kalau kalau Nanang, saya kenal, kawan," kata Razif.

Saksi lainnya, Erza, anggota Ditresnarkoba Polda Lampung mengatakan pemeriksaan terdakwa sudah sesuai KUHAP tanpa unsur paksaan. Terdakwa pun didampingi  kuasa hukum yang disiapkan Polda Lampung karena terancam pidana lebih dari lima tahun.

"Tidak ada itu (tekanan) yang Mulia," kata saksi.

Sementara itu, sidang ditunda karena JPU belum bisa menghadirkan terdakwa M. Sulton di persidangan, baik secara daring dan luring. Sulton dijadwalkan memberikan keterangan, pada Selasa, 5 April 2022.

Perbuatan ketiganya bermula saat  M. Sulton, yang merupakan narapidana mendapatkan perintah untuk mengendalikan peredaran sabu dalam jumlah besar dari seseorang berinisial J yang masih tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO).

Pada Februari 2021, Sulton memerintahkan Nanang dan pelaku berinsial S (DPO) untuk mencari indekos. Kemudian Nanang dan S diperintahkan mengambil sabu seberat 80 kg di Tanjungbalai. Paket sabu itu pun dikemas di rumah kos menjadi empat boks. 

Nanang dan S berangkat ke Bandar Lampung dengan empat boks saby tersebut dan dititipkan di loket bus Pelangi Putra. Narkoba itu pun dibawa Nanang ke Cilegon, Banten.

Di Cilegon, Nanang pergi ke taman kota dengan membawa tiga boks berisi 60 kg sabu untuk diberikan ke beberapa orang atas perintah M. Sulton. Atas upaya tersebut, Nanang diupah Rp600 juta.

Pada Maret 2021, Sulton kembali memerintahkan Nanang ke Medan, Sumatra Utara. Nanang diminta mengambil empat karung berisi 60 kg sabu serta satu bungkus besar ekstasi. Semuanya kembali dikemas Nanang menjadi empat boks.

Nanang membawa empat boks tersebut poll bus Putra Pelangi. Sedangkan ia mengendarai mobil Suzuki Swift seorang diri menuju Bandar Lampung. Terdakwa Razif pun turut menuju Bandar Lampung.

Keduanya menyewa rumah kos di Rajabasa. Setiba di Lampung. M. Sulton memerintahkan Razif dan Nanang membawa puluhan kilogram sabu ke Cilegon maupun ke Surabaya sebanyak beberapa kali.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait