#Kesehatan#VirusKorona

Hadi Pranoto: Herbal Antibodi Covid-19 untuk Anak Bangsa

( kata)
Hadi Pranoto: Herbal Antibodi Covid-19 untuk Anak Bangsa
Hadi Pranoto, peneliti asal Indonesia yang berhasil membuat obat herbal antibodi Covid-19. (Lampost.co/Andi Apriyadi)

KASUS pandemi Covid-19 hingga saat ini mengalami peningkatan di Indonesia, bahkan jumlahnya melebihi kasus di Wuhan, Tiongkok, tempat pertama virus ini ditemukan.

Menghadapi kondisi itu berbagai negara telah melakukan berbagai upaya dan penelitian. Namun, hingga tujuh bulan setelah penemuan kasus pertama di Wuhan, belum ada negara yang berhasil menciptakan vaksinnya.

Baca juga: Penemu Herbal Covid-19 akan Bakti Sosial di Lampung

Berikut wawancara eksklusif wartawan Lampung Post Iskandar Zulkarnain dan Umar Robbani dengan Hadi Pranoto, penemu asal Indonesia yang berhasil membuat herbal antibodi Covid-19 di Tegal Mas Island, Kamis (30/7).

Selamat datang di Lampung. Banyak negara yang belum berhasil menciptakan vaksin Covid-19. Bagaimana Anda dapat menemukan formula herbal antibodi Covid-19 ini?

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) adalah perkembangan dari jenis virus corona yang telah ada sebelumnya. Corona sudah ada tahun 1940. Ada beberapa jenis virus corona yang telah mewabah sebelum Covid-19, yakni SARS dan MERS-Cov.

Penelitian terhadap virus corona telah dilakukan bersama tim sejak tahun 2000. Dalam penelitian itu berhasil ditemukan tumbuh-tumbuhan yang mampu melawan Covid-19. Bahan itu hanya ada di Indonesia, yakni di tanah Jawa.

Apakah herbal antibodi Covid-19 ini bisa juga sebagai pencegahan?

Herbal Covid-19 ini telah dibagikan ke sejumlah kalangan yang telah terkonfirmasi positif Covid-19. Hampir seluruh pasien berhasil sembuh usai mengonsumsi herbal anti-Covid-19. Usai meminum herbal anti-Covid-19 ini paling lama adalah empat hari untuk mencapai kesembuhan.

Baca juga: Peneliti Indonesia Temukan Obat Herbal Covid-19

Selain itu menyembuhkan. Herbal ini bisa digunakan untuk melakukan pencegahan. Herbal yang dibuat tanpa bahan kimia dan mampu membentuk antibodi yang bisa mencegah tertular Covid-19.

Masalah Pandemi Covid-19 merupakan kasus global, apakah herbal ini diekspor ke negara lain?

Hingga saat ini ada beberapa negara yang melakukan komunikasi untuk mengimpor herbal tersebut. Namun, kami belum mau menjual atau mengekspor herbal ke negara lain.

Karena saat ini produksi herbal hanya didedikasikan kepada masyarakat Indonesia. Ini menjadi momen Indonesia bangkit kembali dan menunjukkan diri di mata dunia.

Dalam waktu dekat kami akan melakukan bakti sosial kepada masyarakat. Kegiatan dilakukan dengan membagikan herbal kepada masyarakat secara gratis. Kampanye merdeka Covid-19 dengan mengonsumsi herbal.

Beberapa waktu lalu Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan perusahaan Tiongkok untuk mengimpor vaksin Covid-19. Bagaimana tanggapan Anda?

Terkait masalah vaksin yang akan diproduksi bersama dengan pihak luar negeri itu harus dilakukan uji dahulu, bagaimana kualitas dan dosis apakah cocok dengan kepentingan penanganan Covid-19 di Indonesia. Sebab, peneliti dari seluruh dunia belum ada berani mengklaim telah berhasil membuat vaksin.

Hal itu karena Covid-19 terus mengalami mutasi 1.153 jenis. Sehingga vaksin yang akan diproduksi bersama atau diimpor dari luar negeri ini belum tentu berhasil. Bagaimana kita mendeteksi ini bisa menjadi vaksin yang tepat di Indonesia sedangkan virus ini terus bermutasi.

Impor vaksin tidak menjamin sukses, sementara dana ratusan triliunan rupiah yang akan dikeluarkan negara menjadi sia-sia. Bagaimana Anda bersinergi dengan pemerintah untuk herbal antibodi Covid-19 ini?

Kita berharap kepada pemerintah memberikan ruang yang luas kepada anak bangsa untuk melakukan riset. Hal itu agar lebih banyak lagi riset yang dilakukan anak bangsa. Hasil riset yang dihasilkan akan tepat untuk jenis Covid-19 di Indonesia. Karena Covid-19 ini terus bermutasi dan makin banyak jenisnya. Enam bulan lagi akan muncul virus yang lebih ganas dari Covid-19.

Bahkan, kami juga belum berani mengatakan bahan dan herbal yang telah kami buat ini bisa menjadi vaksin. Namun, kami telah bersinergi dengan pemerintah untuk berbagi kepada seluruh masyarakat.

Tapi memang perlu ada kesepahaman dengan seluruh lembaga terkait penggunaan herbal ini. Kalau kita bersinergi, saya optimistis dalam waktu dekat kita akan bebas dari pandemi Covid-19.

Temuan herbal Anda ini pasti ada pihak yang tak suka (musuh), bagimana Anda menghadapinya?

Mereka tidak saya pandang sebagai musuh, tapi sebagai orang yang memberikan nasihat. Sehingga dengan teguran dan masukan itu, tim saya bisa lebih optimal lagi.  Tapi dalam konteks kemanusiaan saya akan optimal meminta seluruh lembaga dan tim untuk mengutamakan untuk menyembuhkan dan kepastian kepada masyarkat. Jadi tidak ada musuh dalam riset ini.

Setelah berhasil menemukan herbal ini, apa harapan Anda ke depan?

Harapannya, Indonesia mampu bangkit kembali dari keterpurukan selama pandemi Covid-19. Terlebih Indonesia merupakan negara kaya. Bahan, pembuat herbal antibodi Covid-19 sebagian besar hanya ada di Indonesia. Kemudian, pemerintah juga harus memberikan dukungan penuh terhadap para peneliti. Pemerintah harus memberi ruang seluas-luasnya untuk para peneliti melakukan riset.

Apa masukan Anda untuk anak bangsa?

Untuk bisa melahirkan peneliti-peneliti yang sukses, lembaga pendidikan di Indonesia khususnya universitas harus menjadi lembaga berbasis riset. Hal itu sudah dilakukan sejumlah negara besar seperti Jepang, Jerman, Inggris, hingga Amerika Serikat.

Dengan demikian, ke depan anak-anak kita bisa menjadi profesor muda. Kita harapkan mendapat dukungan yang besar dari pemerintah dan masyarakat. Keilmuan dari universitas selama ini hanya turun-temurun, Indonesia tidak akan maju. 

Sebagai awal perubahan, harapannya, pemerintah bisa memberikan dukungan dana kepada perguruan tinggi untuk menjadi universitas riset. Dengan perubahan itu, saya yakin ke depan Indonesia akan punya talenta-talenta baru dan profesor-profesor baru yang lebih baik dan berkualitas. (R5)

EDITOR

Abdul Gafur

loading...

Berita Terkait

Komentar