#pencabulan#kekerasanseksual

Guru Spiritual Keluarga Cabuli Remaja 200 Kali Hingga Hamil

Guru Spiritual Keluarga Cabuli Remaja 200 Kali Hingga Hamil
Polres Ngawi saat merilis kasus pencabulan anak dibawah umur oleh guru spiritual. (Humas Polres Ngawi)


Ngawi (Lampost.co) -- Kasus pencabulan anak di bawah umur kian marak terjadi di Jawa Timur. Terbaru, seorang anak di Kabupaten Ngawi menjadi korban pencabulan sejak dua tahun lamanya.

"Tersangka menyetubuhi korban pertama kali saat usia korban masih 17 tahun dan terus dilakukan secara berlanjut dan berulang kali sampai saat ini korban berusia 19 tahun. Total pencabulan dilakukan hingga 200 kali selama kurun waktu tersebut," kata Kapolres Ngawi, AKBP Dwiasi Wiyatputera, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 27 Juli 2022. 

Dwiasi mengatakan korban mengaku dicabuli tersangka berinisial JKI (46). JKI berasal dari Desa Beran, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, yang merupakan guru spiritual keluarga korban.

"Tersangka JKI orang kepercayaan keluarga korban dan dianggap sebagai guru spiritual keluarga korban," ujar Dwiasi.

Baca juga: Remaja Pelaku Cabul Sesama Jenis Jalani Sidang Dakwaan

Aksi bejat itu bermula pada awal Februari 2020. Di mana saat itu keluarga korban sering meminta bantuan kepada JKI, untuk pengobatan alternatif dan gangguan gaib yang dialami keluarga korban. Saat itu ayah korban sering sakit-sakitan.

"Pada saat itu, ayah korban menderita sakit, dan setelah diobati dengan cara alternatif tersangka, ayah korban mulai berangsur sembuh. Semenjak saat itu, korban dan tersangka mulai akrab dan korban menganggap tersangka sebagai bapaknya sendiri," ujarnya.

Pada Juni 2020, tersangka datang ke rumah korban dengan maksud untuk memberikan amalan kepada bapak dan Ibu korban, dan harus diamalkan di luar rumah. Percaya dengan tersangka, orang tua korban menuruti semua perintah tersangka dan meninggalkan korban di rumah seorang diri. 

"JKI ini berdalih hendak membersihkan diri korban dari aura negatif, serta hendak membaiat korban agar selamat dari segala gangguan makhluk halus," ucap dia.

Untuk melancarkan aksinya, lanjut Dwiasi, tersangka JKI menggunakan bujuk rayu dan ancaman kepada korban. Pelaku juga membawa nama agama sebagai kedok agar korban percaya dan mau disetubuhi tersangka tanpa ada perlawanan. 

"Pada saat itu, tersangka melancarkan aksinya dengan memasuki kamar korban, kemudian membujuk korban dan mengatakan akan membersihkan aura negatif di tubuh korban. Syaratnya, korban harus melepaskan semua pakaiannya dan menuruti semua permintaan dari tersangka," ujarnya.

Selain itu, tersangka meminta korban untuk berjanji selalu menuruti semua kemauan tersangka, tanpa ada perlawanan dan tidak boleh menceritakan kepada siapa pun. Saat itu, tersangka juga mengancam akan mencelakai dan membunuh korban.

"Karena ketakutan maka korban menuruti semua kemauan pelaku, bahkan saat tersangka menyetubuhi korban untuk pertama kalinya di rumah korban tersebut," ujar dia.

Setelah kejadian pertama, tersangka merasa ketagihan sehingga terus mengulangi aksi bejatnya itu sehingga korban hamil lima bulan. Dwiasi mengatakan korban selama ini tidak menceritakan kejadian yang dialaminya karena takut akan ancaman tersangka.

Namun, hal itu terungkap setelah korban hamil dan memberanikan diri untuk menceritakan semuanya kepada orang tuanya. Lalu, mereka melaporkan hal itu ke Polsek Ngawi guna proses hukum lebih lanjut.

Dari hasil pendalaman penyidik Polsek Ngawi, diduga tersangka melakukan hal serupa kepada puluhan anak di bawah umur. Namun, hingga saat ini belum ada korban lain yang melapor ke Polri.

"Untuk itu Satreskrim Ngawi membuka hotline khusus pusat pengaduan kasus pencabulan sehingga dapat segera tertangani, dengan nomor 085161847080," ujar dia.

Atas perbuatannya, tersangka JKI dijerat Pasal 76D Jo 81 atau Pasal 76E Jo pasal 82 UURI No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perpu No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UURI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang- undang. Tersangka terancam hukuman berupa pidana penjara maksimal 15 tahun penjara, dan denda Rp5 miliar.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait