GGFekonomisirkular

GGF Terapkan Ekonomi Sirkular untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan

GGF Terapkan Ekonomi Sirkular untuk Menjaga Kelestarian Lingkungan
GGF menerapkan Ekonomi Sirkular. dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Limbah yang dihasilkan perusahaan masih menjadi masalah besar di Indonesia. Limbah cair maupun padat yang tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada kerusakan lingkungan.

Co-founder A+ CSR Indonesia Jalal mengatakan pengembangan perusahan berkelanjutan adalah kunci untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan generasi mendatang.

Maka, perusahaan harus menerapkan ekonomi sirkular sebagai upaya untuk menjaga bumi agar tetap lestari. Perusahaan dituntut untuk peduli dengan lingkungan sekitar dan di lahan yang digunakan untuk menjalankan bisnisnya.

 “Perusahaan berkelanjutan harus memiliki tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Jika perusahan ingin untung maka harus pikirkan tujuan mulia,” kata dia dalam Webinar Pemanfaatan Limbah Produksi GGF dengan Konsep Circular Economy Berkelanjutan, Kamis 15 Agustus 2020.

Untuk menjadi perusahaan berkelanjutan, harus memberikan dampak positif baik di dalam maupun di sekitar perusahaan berdiri.

“Jika ingin menjadi perusahaan berkelanjutan maka jangan membuat dampak negatif, tapi ciptakan manfaat sosial, regenerasi daya dukung lingkungan, mengembalikan yang rusak menjadi lebih baik lagi, itu akan menjadikan perusahaan layak,” ujarnya.

Berdasarkan GlobalScan dan SustainAbility, 2020 perusahaan berkontribusi besar dalam keberlanjutan lingkungan.

“Ekonomi sirkular merupakan konsep yang didisain dari awal oleh perusahaan untuk tidak menghasilkan sampah,” imbuhnya.

Senior Manager Sustainability GGF Arief Fatullah  menjelaskan GGF ingin melahirkan produk berkualitas dengan proses yang baik. Selain  higienis, tapi juga ramah lingkungan dengan menerapkan inovasi berkelanjutan.

Ia menjelaskan, sirkular ekonomi telah dilakukan sejak dahulu. Ia mencontohkan petani berangkat ke kebun membawa kotoran ternak untuk memupuk tanaman. Sementara limbah pertanian dari kebun diberikan ke hewan ternak.

“Itu yangmenjadi pedoman GGF untuk menerapkan Ekonomi Sirkular,” ujarnya.

Ekonomi Sirkular di GGF

Sejak awal, kata Arief, GGF telah menerapkan sirkular ekonomidengan sistem yang terukur dan terintegrasi.

Arief mengungkapkan setiap bulan GGF bisa menghasilkan 209.402 limbah biomassa. “Jika tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi masalah besar. Maka GGFmembangun masalah itu menjadi peluang bisnis,”ujarnya.

Seperti nanas, ketika dipanen mahkota nanas kembali ke kebun dan menjadi bibit. Sementara buahnya, masuk ke pabrik pengalengan nanas. Batang nanas juga diambil ke pabrik promelin enzim, dan daunnya kembali ke lahan sebagai pupuk.

Pabrik nanas juga menghasilkan produk turunan, seperti nanas kaleng, jus, dan cocktail. Sementara kulit nanas juga dimanfaatkan sebagai pakan sapi di Great Giant Livestock.

Sama dengan singkong yang  masuk ke pabrik tapioka. Pabrik menghasilkan limbah potongan singkong yang juga dijadikan pakan ternak.  Petenakan sapi menghasilkan susu dan daging. Sementara  limbahnya berupa kotoran dijadikan pupuk kompos melalui unit composting.

Kemudian, limbah cair dari pabrik nanas dan tapioka masuk ke reaktor biogas. Energi listrik yang dihasilkan ditransfer ke power plan dan menjadi sumber energi untuk pabrik. Limbah air dari reaktor biogas juga dialirkan ke kolam penyulingan yang kemudian  digunakan untuk kembali  menyiram tanaman.

“Kami memastikan limbah yang ada, bisa selesai. Artinya tidak ada sisa,” ujarnya.

Tak hanya itu, lahan bambu yang berfungsi sebagai konservasi air juga dimanfaatkan. Bambu yang tua ditebang dan batangnya dijadikan penyangga pohon pisang. Sebagian bambu masuk ke campuran kompos.

GGF juga memiliki pengelolaan sumber air, seperti water reservoir atau embung yang cukup banyak. Embung berfungsi sebagai resapan air ketika musim hujan. “Ketika kemarau digunakan untuk sumber penyiraman tanaman,” imbuhnya.
 

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait