#Covid-19Indonesia

Gelombang Ketiga Covid-19 Diprediksi Hantam Indonesia Akhir Tahun

Gelombang Ketiga Covid-19 Diprediksi Hantam Indonesia Akhir Tahun
Ilustrasi. Medcom.id


Jakarta (Lampost.co) -- Pandemi covid-19 belum berakhir. Gelombang ketiga covid-19 masih berpotensi terjadi meskipun angka positivity rate atau penularan kasus terus menurun.

 

Ketua POKJA Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Erlina Burhan, mengatakan upaya menekan penularan covid-19 di Tanah Air bisa dibilang berhasil. Pada Juni 2021, kasus positif bisa mencapai 50-an ribu per hari. Angka kasus positif covid-19 kini menurun hingga sekitar 2 ribuan per hari.

Menurut dia, penerpan protokol kesehatan yang ketat, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), hingga akselerasi vaksinasi merupakan faktor keberhasilan Indonesia mengatasi penularan covid-19. Namun, masyarakat tidak boleh lengah meski kasus sudah turun dan aktivitas perlahan normal.

"PPKM berhasil namun kita jangan terlena, jangan lengah karena situasi pandemi belum sepenuhnya teratasi. Apalagi Kemenkes mengatakan ada potensi terjadi gelombang ketiga," ujar diaa dalam diskusi virtual bertema, 'Wasapada Mutasi Virus dengan Protokol Kesehatan', Kamis, 30 September 2021.

Menurut Erlina, prediksi gelombang ketiga itu terjadi lantaran kondisi saat ini mulai normal. PPKM sudah makin longgar dan berbagai aktivitas mulai dibuka, termasuk sekolah.

"Kenapa diprediksi terjadi karena PPKM sudah makin longgar, nanti ada liburan akhir tahun, sudah mulai sekolah tatap muka, cakupan vaksinasi masih di angka 24 persen padahal targetnya 70 persen. Hal-hal itu yang membuat kita harus waspada," kata dia.

Berdasarkan catatan itu, Erlina memprediksi gelombang ketiga terjadi mulai akhir tahun atau bertepatan dengan periode liburan. Namun, Erlina optimistis gelombang ketiga pandemi tidak akan terjadi di Indonesia bila prokes dipatuhi dengan penuh kesadaran.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Udayana Bali I Gusti Ngurah Kade Mahardika membenarkan adanya potensi gelombang ketiga. Dia memprediksi lonjakan kasus covid-19 terjadi pada periode Desember 2021 hingga Februari 2022.

"Pola pattern-nya prediksi kalau letupan kasus itu Desember, Januari, Februari. Tetapi karena kita sudah vaksinasi mestinya tekanan pada RS tidak seperti kemarin, kasus meninggal juga harus bisa berkurang," ungkap dia.

Dia menjelaskan gelombang kasus covid-19 sebenarnya terjadi secara alami. Pada akhirnya manusia akan hidup berdampingan dengan virus korona, seperti influenza dan lainnya. Sehingga polanya memang musiman.

Mahardika mengatakan pola penularan ke deoan akan sama dengan sebelumnya, yakni terjadi peningkatan kasus pada pertengahan tahun dan akhir atau awal tahun. Menurut dia, pemerintah harus mewaspadai agar gelombang ketiga tidak seburuk gelombang sebelumnya. Artinya, pasien dengan gejala berat dan kasus meninggal bisa dikendalikan.

"Gelombang ketiga pasti akan terjadi hanya saja pola dunia. Memang letupan kasus terjadi, negara-negara vaksinasi 60 persen tapi kasus masih terjadi. Ya, mereka sudah bebas tanpa prokes lagi, mereka berkumpul nonton bola, tetapi kemudian jumlah orang yang masuk RS rendah, juga jumlah orang yang meninggal sangat rendah," jelas dia.

Mahardika mengaskan penyebaran kasus di komunitas sulit dihindari. Namun, gelombang ketiga tidak banyak berdampak pada jumlah pasien di RS dan korban jiwa bila cakupan vaksinasi sudah mencapai 70 persen atau bahkan 100 persen.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait