#eksplorasi#minyak#Lamteng#beritalampung

Ganti Rugi Lahan Eksplorasi Minyak Belum Rampung

Ganti Rugi Lahan Eksplorasi Minyak Belum Rampung
Pembahasan eksplorasi Minyak Dan Gas Di Kabupaten Lampung Tengah. (Foto:Dok.Antara)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Pemerintah Provinsi Lampung meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dapat mengedepankan pendekatan kultural sebagai upaya pembebasan lahan eksplorasi energi.

Pasalnya hingga kini perundingan ganti rugi tanah milik Slamet Jafarudin di Desa Tanjungratu Ilir, Way Pangubuan, Lampung Tengah masih buntu. Warga dan pemerintah belum sepakat soal harga lahan dua hektare berisi bangunan dan tanam tumbuh.

Camat Way Pangubuan, Dahrif Anshory menjelaskan proses pengeboran minyak di wilayahnya telah dimulai tahapannya sejak tahun 2016 saat PT Harpindo Mitra Kharisma dan SKK Migas melakukan survei. Berdasar pada pemetaan, terdapat potensi kandungan minyak di tanah milik Slamet yang merupakan tokoh adat setempat.

"Awalnya pemilik lahan menolak memberikan lahan karena itu adalah tanah orang tua dan tidak akan pernah dijual untuk diturunkan ke anak cucunya. Namun, PT Harpindo yang didukung Pemkab menegosiasi ganti rugi lahan dengan pendekatan kekeluargaan," kata Anshory dalam rapat di ruang Abung Balai Keratun, Selasa (24/4/2018).

Ia menerangkan harga penawaran dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) PT Harpindo sebesar Rp500 juta untuk lahan dua hektare. Namun, Slamet menolak karena dinilai tidak wajar.

Menanggapi itu, Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, Didik Sasono Setyadi mengakui perundingan dengan pemilik lahan tidak pernah menyebutkan nilai karena kontraktor dan pemerintah dilarang menawarkan harga. Untuk itu ditunjuk lembaga independen KJPP untuk menilainya.

Sekretaris Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis menyarankan untuk menyelesaikan masalah harga ganti rugi lahan itu perlu mengedepankan pendekatan kultural dan lebih mengesampingkan cara formal. Terlebih, pemilik lahan tersebut merupakan tokoh adat yang dihormati masyarakat setempat.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...


Berita Terkait



Komentar