#nataru#jtts#ppkm

Ganjil Genap Dinilai Tidak Cocok untuk Lampung

Ganjil Genap Dinilai Tidak Cocok untuk Lampung
Pengelola Jalan Tol Trans Sumatera Provinsi Lampung saat melakukan pemeriksaan kendaraan. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kebijakan penerapan ganjil genap menuju destinasi wisata saat perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) dinilai kurang pas diterapkan di Provinsi Lampung.

Branch Manager PT. Hutama Karya Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar (Bakter), Hanung Hanindito mengatakan, pihaknya belum mendapatkan regulasi secara resmi mengenai penerapan ganjil genap di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) Provinsi Lampung. Secara normal, dalam sehari ada 12.000 kendaraan yang lalu lalang di lajur tol. Namun pihaknya tetap memprediksi akan ada peningkatan arus selama libur Nataru.

"Sampai dengan saat ini, belum ada keputusan terkait hal tersebut. Ada perkiraan lonjakan arus, tetapi saya belum hitung kembali," katanya kepada Lampost.co, Minggu, 12 Desember 2021.

Baca: Ganjil Genap akan Diterapkan di Lampung selama Nataru

 

Begitupun disampaikan Manager Marketing Taman Wisata Lembah Hijau, Yudi Indra Irawan. Ia menyebut penerapan ganjil genap belum tepat diterapkan di Provinsi Lampung.

"Enggak pas ganjil genap diterapkan di Lampung. Kalau di Jakarta sih oke dan masyarakat sudah paham. Tetapi kalau di daerah belum bisa," katanya.

Sesuai Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 66 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Covid-19 pada saat Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 yang berlaku pada 24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2022 disebutkan, khusus untuk pengaturan tempat wisata ada beberapa poin yang perlu diperhatikan.

Pertama, meningkatkan kewaspadaan pada objek wisata khususnya untuk daerah-daerah sebagai destinasi pariwisata favorit. Kedua, mengidentifikasi tempat wisata yang menjadi sasaran liburan di setiap kabupaten/kota agar memiliki protokol kesehatan (Prokes) yang baik. Ketiga, menerapkan pengaturan ganjil-genap untuk mengatur kunjungan ke tempat wisata prioritas.

Keempat, tetap menerapkan prokes yang lebih ketat dengan pendekatan 5M atau memakai masker, mencuci tangan pakai sabun/hand sanitizer, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Kelima, memperbanyak sosialisasi, memperkuat penggunaan dan penegakan aplikasi PeduliLindungi pada saat masuk (entrance) dan keluar (exit) dari tempat wisata serta hanya pengunjung dengan kategori hijau yang diperkenankan masuk. 

Keenam, memastikan tidak ada kerumunan yang menyebabkan tidak bisa jaga jarak. Ketujuh, membatasi jumlah wisatawan sampai dengan 75% dari kapasitas total. Kedelapan, melarang pesta perayaan dengan kerumunan di tempat terbuka/tertutup. Kesembilan, mengurangi penggunaan pengeras suara yang menyebabkan orang berkumpul secara masif. dan kesepuluh, membatasi kegiatan masyarakat termasuk seni budaya yang menimbulkan kerumunan yang berpotensi terhadap penularan covid-19.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait