#Milenial#EkonomiBisnis#UMKM#Kewirausahaan

Gairah Adaptasi Milenial Kibarkan Local Pride

Gairah Adaptasi Milenial Kibarkan <i>Local Pride</i>
Putri Ayu Sekar Pamungkas. (Dok Istimewa)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Hantaman pandemi mengganggu stabilitas ekonomi. Banyak sektor usaha rontok karena tak sanggup bertahan. Sempat terperangkap dalam lemahnya nadi ekonomi, pengrajin tapis Lampung mengerahkan segenap daya untuk bangkit. Kemampuan adaptasi kenormalan baru justu melambungkan local pride menjadi primadona.

Gairah untuk bangkit dari kemuraman ekonomi, muncul dari Putri Ayu Sekar Pamungkas. Dara 28 tahun itu membakar semangat 200 orang pengrajin binaannya untuk tetap optimistis. Dari Pekon Sailing Sumbermulyo, Kecamatan Sumberejo, Tanggamus, Putri menggenjot produksi tapis dan tenun Lampung untuk dipasarkan dengan gaya digital.

"Dua merk dagang saya adalah Tenun Lampung dan Puteri Tapis. Awalnya saya hanya produksi kain tenun dan tapis Lampung. Saat pandemi, pembelian produk itu turun drastis karena pesta dan acara adat vakum. Saya harus putar otak untuk tetap eksis," kata sarjana Sistem Informasi itu, pada awal pekan pertama November.

Jeli membaca peluang, Puteri banting stir dengan memproduksi masker tapis berbahan kain tenun. Produksi kain tenun dan tapis masih dilakukan, sebagai upaya menjaga budaya lestari. Utamanya, kini Puteri merancang masker sesuai standar keamanan Kemenkes, sambil tetap mengusung eksotika tapis Lampung.

"Produksi masker tapis jadi titik nol. Saya harus merintis lagi dari awal. Pemetaan pasar hingga strategi marketingnya," kata perempuan lajang itu. Beradaptasi dengan kebijakan pemerintah yang mengedepankan transaksi cashless, Puteri merambah marketplace serta media sosial Facebook dan Instagram.

Marketing dan promosi gaya baru itu ternyata disambut hangat oleh pasar. Usaha yang telah dimulai sejak empat tahun lalu itu kebanjiran pembeli dan pesanan. Di antaranya kalangan perguruan tinggi, komunitas hobi, hingga instansi pemerintahan yang memesan masker tenun tapis dengan desain khusus untuk seragam.

Penjualan masker tenun tapis rata-rata per bulan tembus 1.000 buah. Harga yang dibaderol sekitar Rp12.500--Rp50.000. Omzet yang dikantongi mencapai Rp20 juta. Ia mengaku bersyukur atas semangat yang dimiliki oleh ibu rumah tangga binaannya.

"Sambil menjaga mutu produk, saya ajak pengrajin untuk tetap memelihara pikiran positif selama pandemi. Alhamdulillah, produk Tenun Lampung dan Puteri Tapis amat bersaing. Saatnya brand lokal menjadi raja di daerahnya," tutur Puteri. Ia juga berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Tanggamus atas dukungannya kepada pelaku UMKM.

Sementara di sudut Kota Bandar Lampung, upaya memenangkan kondisi juga nampak jelas dari Angga, pemilik distro Cuci Otak. Pada awal pandemi, anjloknya daya beli masyarakat memaksanya menjual motor kesayangan demi menutupi biaya operasional usaha. 

"Omzet jatuh banget. Orang-orang stay di rumah aja. Toko saya enggak ada pengunjung. Enggak bisa begini terus, jadi saya cek ombak untuk jualan melalui marketplace berbagai platform. Saya juga mikir keras untuk menghasilkan produk yang lebih menarik karena kompetitor di marketplace amat beragam," kata pria 30 tahun itu.

Identik dengan tulisan kritis nan menggelitik, Cuci Otak mulai mendapatkan ritme baru penjualan online. Ia menilai sejak September daya beli berangsur pulih. Pembeli berdatangan dari penjuru Nusantara. "Bukan cuma dari Lampung, yang beli Cuci Otak bahkan dari Kalimantan dan Sulawesi," ujarnya.

Selain mutu produk, Angga juga berstrategi untuk menentukan harga yang ramah di kantong milenial. Harga itu harus tetap memberi laba baginya sekaligus kepuasan terhadap pelanggan. "Hampir semua pembeli di marketplace itu ternyata mencari barang diskon. Itulah potensi yang saya garap. Mengemas produk secara menarik dan menggulirkan program promosi yang dikejar banyak pembeli," kata Angga.

Ekosistem Digital

Badan Pusat Statistik mencatat total populasi generasi milenial saat ini mencapai 90 juta orang. Dengan jumlah tersebut, milenial disebut memiliki pengaruh besar dalam perubahan perilaku.

Bhima Yudhistira Adhinegara selaku peneliti INDEF mengatakan milenial menjadi pemimpin dalam ekosistem digital. Sejumlah indikatornya antara lain order makanan online naik 21% selama pandemi, begitu pula pembelian barang melalui e-commerce, serta digital banking.

"Ada perubahan tren konsumsi milenial. UMKM ditantang untuk membumikan local pride, misalnya pada produk fashion yang mengusung brand lokal yang memenuhi mutu ekspor," kata Bhima dalam diskusi online, Juma,t 6 November 2020.

Ia mengklaim saat ini terdapat 131 juta pengguna internet. Hal itu mendorong UMKM berbondong-bondong merambah penujualan secara digital. Situasi itu berhasil mendorong pertumbuhan e-commerce Indonesia hingga 31%, jauh melampaui angka dunia.

"Namun, UMKM Indonesia lebih rentan dibanding negara lain di Asia seperti Filipina dan Vietnam," ujarnya. Berdasar pengamatan, sebanyak 90% UMKM membutuhkan bantuan finansial baik dari perbankan maupun pemerintah untuk memulai usahanya kembali.

Sementara, Leonard Theosabrata selaku Direktur Utama Smesco Indonesia mengatakan UMKM yang tumbuh baru di masa pandemi kebanyakan dari kelas menengah. "Saat pandemi justru bermunculan UMKM baru, utamanya di sektor kuliner. Beberapa dari mereka ialah karyawan yang mencari tambahan dengan buka PO," kata dia.

Leonard memotivasi UMKM untuk optimistis menggaet pasar domestik dengan tingkat konsumerisme tinggi. Pelaku UMKM diminta untuk mengenali kekuatan bisnisnya sesuai kekhasan Indonesia dengan memperhatikan kondisi geografis dan sumber daya alam yang tersedia. "Pandemi ini momentum UMKM untuk berpikir out of the box. Ini optimisme yang harus didukung oleh pihak agregator yang bisa mendorong sektor UMKM secara digital," kata dia.

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait