#israel#palestina

Erdogan Sebut Tangan Biden Penuh Darah karena Bela Israel

Erdogan Sebut Tangan Biden Penuh Darah karena Bela Israel
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berbicara di Ankara pada 5 April 2021. Adem ALTAN/AFP


Ankara (Lampost.co) -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut tangan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden penuh darah. Hal itu lantaran Biden membiarkan Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk puluhan anak-anak di Gaza, Palestina.

"Anda (Biden) menuliskan sejarah dengan tangan berdarah," kata Erdogan dalam pidatonya, Selasa, 18 Mei 2021.

Baca juga: Solidaritas Umat Muslim Lampung Doakan Palestina

Dilansir dari laman AFP, sebenarnya Erdogan tengah memperbaiki hubungan Turki dengan AS beberapa bulan belakangan. Namun, komentarnya tersebut menjadi kecaman terkeras sejak Biden resmi menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.

"Kami tidak lagi bisa diam atas semua (kekerasan) ini," ucap dia.

Turki menjadi salah satu negara di kawasan tersebut yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Erdogan selama 18 tahun memerintah berusaha membela Palestina. Ia bahkan menuduh Israel melancarkan teror dan berjanji menggalang dukungan dunia demi membela Gaza.

Biden sebelumnya membela Israel dan tidak mengambil sikap untuk menghentikan serangan udara yang dilakukan Tel Aviv ke Gaza. Ia mengatakan Israel sah-sah saja melancarkan serangan untuk membela diri dari roket yang ditembakkan oleh Hamas ke kota di perbatasan.

Namun, untuk pertama kalinya pada hari ini, Gedung Putih resmi menggunakan gencatan senjata terkait ketegangan Palestina-Israel. Hal ini disampaikan Biden kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Sudah memasuki pekan kedua, tetapi konflik di Gaza masih berlanjut. Hamas terus menembakkan roket, sedangkan Israel melancarkan serangan udara.

Total 212 orang Palestina telah tewas di Gaza, termasuk sedikitnya 61 anak-anak, dan lebih dari 1.400 lainnya luka-luka. Sementara itu di Israel, 10 orang tewas, termasuk satu anak dengan ratusan lainnya terluka.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait