#viruscorona#viruskorona#kesehatan#beritanasional

Elegi Pemakaman Jenazah Pasien Korona

( kata)
Elegi Pemakaman Jenazah Pasien Korona
Ilustrasi. Dok Lampost.co

Sidoarjo (Lampost.co): Ternyata pemerintah dan masyarakat tidak hanya harus berjibaku melawan penyakit dan dampak ekonomi dari wabah virus korona (covid-19). Stigma negatif sebagian masyarakat kepada pasien, tenaga medis, orang terpapar, dan jenazah korban covid-19 menjadi persoalan tersendiri yang semakin banyak muncul.

Pengalaman itu dialami langsung Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Sumardji, pada Rabu, 25 Maret 2020. Dia bersama pelaksana tugas (Plt) Bupati Sidoarjo Nur Achmad Syaifuddin dan Direktur RSUD Sidoarjo dr Atok Irawan terpaksa mengubur sendiri jenazah pasien dalam pemantauan (PDP) covid-19 karena warga tak mau terlibat.

Pasien yang diketahui berdomisili di Sedati, Sidoarjo, tersebut diduga tertular anaknya yang positif covid-19 dan baru saja pulang dari Malaysia. "Malam itu, kami dikabari bahwa pasien ini sudah meninggal. Informasi yang kami terima dari dokter, jenazah ini harus cepat-cepat dikubur," ungkap Kombes Pol Sumardji, Sabtu, 4 April 2020.

Jenazah yang terpapar virus korona harus dikubur dalam empat jam. Beberapa jam kemudian, dia mendapat kabar bahwa keluarga jenazah pasrah dan meminta tim medis memproses pemakaman korban. Mendapati informasi tersebut, Nur Achmad dan Atok ikut turun tangan membungkus jenazah sesuai protokol kesehatan.

Alangkah kagetnya mereka bertiga saat jenazah hendak dimasukkan ke mobil ambulans. Tiba-tiba sopir menghilang beralasan takut terpapar virus korona. Ambulans milik polisi dikerahkan membawa jenazah.

Baca juga: Pemakaman Pasien 02 Dapat Penolakan Warga

Baca juga: Warga Sekincau Menerima Pemakaman Pasien Korona

Tak berhenti di sana, jenazah ditolak warga karena berbagai macam alasan. Jenazah yang rencananya dimakamkan di kawasan Sedati terpaksa dicarikan tempat pemakaman baru.

"Pemda akhirnya bergerak cepat dan memutuskan jenazah ini dimakamkan dikawasan Troloyo," terang Sumardji.

Sesampainya di pemakaman, kembali muncul masalah. Tidak ada penggali kubur yang mau terlibat karena takut tertular virus korona. Sumardji, Nur Achmad, dan Atok ditambah dua orang lain turun menggali kubur.

"Tentunya kita sudah siap dengan perlengkapan seperti alat pelindung diri (APD) dan sebagainya. Lalu kita segera masukkan jenazah ke liang lahat," kata Sumardji

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar