#kriminal#rakata#polda#beritalampung

Eko Rakata Bakal Kembali Dipanggil

Eko Rakata Bakal Kembali Dipanggil
Pejabat Sementara Kasubdit II, Kompol I Ketut Suryana.(Foto:dok Lampost.co.)


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Direktur lembaga survei Rakata Institute Eko Kuswanto bakal kembali dipanggil oleh Penyidik Subdit II Tindak Pidana Perbankan dan Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Lampung.
Pemanggilan kedua dosen UIN Raden Intan tersebut, berkenaan dugaan pelecehan profesi jurnalis, atas celotehannya di komentar laman Facebook.
"Nanti bakal dipanggil lagi untuk pemeriksaan yang kedua," ujar PS Kasubdit II Tindak Pidana Perbankan dan Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Lampung Kompol I Ketut Suryana, Kamis (24/5/2018).
Namun pemanggilan tersebut belum terjadwal. Alasannya, karena penyidik perlu terlebih dahulu melakukan gelar perkara, dari hasil pemeriksaan perdana Eko sebagai Terlapor, pada Jumat (18/5/2018) silam.
"Nanti kita gelar dulu, kalau sudah pasti kita panggil lagi untuk dimintai keterangan lebih rinci," kata mantan Wakapolres Lampung Selatan itu.
Selain itu, pihaknya juga akan memanggil pelapor Yakni  Erlan Heryanto dari media online binar.com. Namun pemanggilan Erlan pun belum dijadwalkan. "Nanti kita panggil juga pelapor, cuma waktunya tunggu gelar perkara," katanya.
Sebelumnya, Direktur lembaga Survei Rakata Institute Eko Kuswanto diperiksa oleh penyidik Subdit II Tindak Pidana Perbankan dan Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Lampung, pada Jumat (18/5/2018). Pemanggilan Eko terkait dugaan pelecehan profesi jurnalis atas postingan Eko di media sosial.
Pejabat Sementara (PS) Kasubdit II Tindak Pidana Perbankan dan Cybercrime, Kompol I Ketut Suryana mengatakan Ekodatang memenuhi panggilan penyidik sekitar pukul 09.15, dan diperiksa hingga sekitar pukul 12.00 sebelum shalat Jumat bergulir, total ada 15 pertanyaan yang diberikan ke Eko.
Sebelumnya Perkara tersebut dilaporkan oleh Aliansi Pers Peduli Demokrasi yang diwakili oleh dengan nama pelapor Erlan Heryanto dari media online binar.com. Erlan didampingi kuasa hukumnya, Wahrul Fauzi Silalahi.
Dosen UIN Raden Intan itu dilaporkan atas dufaan pelanggaran Pasal 27 ayat 3 jo Pasal 45 ayat 1 Undang-Undang No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Yakni, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, dengan ancaman pidana maksimal 6 tahun. 

EDITOR

Asrul Septian Malik

loading...




Komentar


Berita Terkait