#beritalampung#beritalampungterkini#pencemaran#sungaitercemar

Ecoton Klaim 25 Sungai di Sumatra Tercemar Mikroplastik

Ecoton Klaim 25 Sungai di Sumatra Tercemar Mikroplastik
Ekspedisi Sungai Nusantara saat melakukan penelitian terhadap cemaran plastik di sungai yang ada di Bandar Lampung, Senin, 21 April 2021. Lampost.co/Andre Prasetyo Nugroho


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ecological Observation and Wetland Conservation Foundation mengeklaim 25 sungai di Sumatra tercemar mikroplastik, klorin, dan fosfat. Berdasar Ekspedisi Sungai Nusantara, khususnya di Sumatra beberapa sungai yang mengandung mikroplastik, seperti Sungai Deli di Sumatra Utara, Sungai Musi di Palembang, Sungai Batanghari di Jambi, sungai di Aceh, Bengkulu, Sumatra Barat, dan Lampung, serta beberapa sungai lainnya.

Hal itu diungkapkan Founder Ecoton Foundation Prigi Arisandi dalam acara Ngobrol Berita Terkini (Ngorbit) Lampost.co melalui live Instagram, Senin, 21 November 2022. “Dari rata-rata yang kita lihat kita 25 sungai yang ada di Sumatera itu ternyata semua mengandung mikroplastik," katanya.

Baca juga: Olahan Pisang di Suak Jadi Tambahan Pendapatan Warga 

Prigi menjelaskan beberapa sungai yang mengandung mikroplastik berat, seperti Sungai Deli, Sumatera Utara, menjadi peringkat pertama penemuannya Ekspedisi Sungai Nusantara. "Sekitar 25 sungai yang ada di Sumatra itu, terutama Sungai Deli itu mengandung mikroplastik, tapi ada sungai yang sama sekali belum mengandung mikroplastik, seperti Way Sekampung, Lampung Tengah, mata air di hulunya masih bagus," ujarnya.

Dia menambahkan secara akumulatif dibanding sungai lain yang ada di Sumatra, sungai di Provinsi Lampung masih relatif tidak tercemar. "Lampung masih relatif tidak tercemar dibanding lainnya, tetapi ada problem yang sama di semua sungai di Sumatra, yakni kontaminasi klorin sama fosfat," katanya.

Menurut dia, kontaminasi klorin dan fosfat tersbeut disebabkan Sumatra menjadi daerah perkebunan kelapa sawit yang limbahnya membuat sungai tercemar. "Dari hasil penelitian kami, kandungan klorin dan fosfat itu mencapai sekitar 10 kali lipat dari standar. Standarnya tidak boleh lebih dari 0,03 ppm, tapi yang kami temukan itu bahkan ada yang 1 ppm," katanya.

Hal ini karena pemda setempat kurang mengawasi sungai-sungai di daerahnya. Selain itu juga peran masyarakat untuk menjaga sungai pun terbilang minim.

"Pengawasan pemerintah minim, begitu juga peran serta masyarakat sangat minim. Masyarakat tidak ikut mengawasi, tidak ikut mengontrol atau monitoring, dan bahkan kita juga melihat mereka membuang sampahnya ke sungai," ujarnya.

Dia memberikan solusi, seperti mengelola sampah di level rumah tangga dengan sistem pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik. "Minimal dua itu karena pola atau profil sampah masyarakat di Indonesia hampir 70% itu adalah sampah yang bisa dikomposkan atau sampah organic. Kalau kita bisa mengurangi apa dengan memilah sampah tadi itu sudah mengurangi 70%," katanya.

"Kemudian 20% itu adalah sampah yang bisa didaur ulang, seperti kertas karton, botol plastik itu bisa didaur ulang. Dan yang 10% tidak bisa didaur ulang, seperti popok, sachet, styrofoam," ujarnya.

Dia menyarankan agar setiap rumah di Lampung memiliki tempat sampah minimal dua dan harus membuat komposter.

"Kalau enggak punya perorangan mungkin bias bikin komunal di level kampung,  RT/RW sehingga sampah organik itu bisa diolah menjadi kompos dan yang terpenting harus  mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Untuk itu, kita harus membudayakan atau menggerakkan sebuah aktivitas untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait