#GempaMamuju#BencanaAlam

Dukaku untuk Lukamu

Dukaku untuk Lukamu
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group.


Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group.

MANTRA-MANTRA hitam yang 
terbang 
bagai burung dalam angin 
kini lenyap 
jadi berita-berita indah tentang 
kau Mamuju

Saya menemukan Mamuju dalam sebuah puisi yang ditulis penyair sekaligus musikus lokal, Suparman Sopu. Puisi yang dia beri judul Mamuju itu ditulis pada 1993. Dalam puisi ini mantramantra hitam menjadi penanda tentang Mamuju. Mamuju digambarkan sangat erat dengan ilmu hitam yang kini mulai pelanpelan ditinggalkan.

Pada bait akhir puisinya, Suparman Sopu kembali menekankan perihal mantra-mantra hitam itu:

oh... Mamuju 
mantra-mantra hitam 
yang terbang bagai burung-burung dalam angin 
kini segera jadi cerita 
dongeng kakek di tempat tidur.

Pada 1993, Suparman menulis bahwa Mamuju (sebagian orang menyebutnya Manakarra), yang kini ibu kota Provinsi Sulawesi Barat, mulai masuk masa transisi dari kota 'kemistisannya menuju ke kota yang lebih 'logis dan modern'. Ia menegaskan bahwa mantra-mantra hitam kini segera jadi cerita dongeng kakek di tempat tidur.

Apakah perubahan itu diikuti hilangnya kebajikan lokal? Saya belum menemukan riset panjang soal itu. Saya hanya menemukan kegelisahan kecil dari beberapa orang Mamuju tentang bagaimana mulai pudarnya identitas mereka. 'Mamuju ialah kota yang sama dengan kota-kota lain, begitu kata mereka'.

Lalu, apakah gempa bermagnitudo 6,2 di Mamuju dan Majene, Sulbar, dini hari kemarin, merupakan salah satu penanda ikut ditiup anginnya kebajikan lokal seperti sajak Suparman Sopu? Tak usah berdebat soal itu. Yang jelas, gempa itu meratakan sebagian gedung-gedung, menimbun apa saja yang berlindung di bawahnya. Ribuan orang menjadi korban, puluhan di antaranya meninggal dunia. Kita berduka sedalam-dalamnya untuk wilayah yang lahir pada 5 Oktober 2004 itu.

Saya jadi teringat ucapan Nabi Muhammad: wa kafaa bil mauti waidha (Dan cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat). Sabda Nabi itu bahkan telah 'diterjemahkan'dalam bahasa yang lain, 'berdamailah dengan bencana wahai yang hidup di dataran bencana'. Tapi, nyatanya memang kita belum sepenuhnya sanggup mengakrabi bencana.

Cara kita mengambil 'kebijakan'masih jauh dari kebajikan. Banyak yang mengabaikan standar kegempaan dalam mendirikan bangunan. Saya ambil contoh bangunan di Bukittinggi, Sumatra Barat, hanya 20% dari ribuan bangunan yang sesuai standar keamanan bencana. Itu pun, menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bukittinggi, belum diikuti kebijakan penanganan maksimal. Kondisi tidak jauh berbeda ada di berbagai wilayah di Tanah Air, termasuk di Mamuju dan Majene, Sulbar.

Padahal, aturan sudah ditetapkan: bangunan harus disesuaikan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726-2002 yang menetapkan standar tertentu untuk sebuah bangunan agar tahan gempa. Tujuannya jelas, supaya jika gempa melanda, korban jiwa bisa diminimalisasi. Jika itu diikuti, berarti kita sudah berdamai dengan bencana.

Jepang ialah contoh nyata bagaimana 'mengakrabi' bencana. Karena 'Negeri Sakura itu' merupakan negara yang paling sering dilanda gempa, sejak 1971 Jepang mewajibkan semua bangunan harus didesain tahan gempa. Aturan itu dipertegas lagi pada 1981 setelah gempa di Prefektur Miyagi. Kendati gempa bermagnitudo lebih dari 7 mengguncang Jepang, tak banyak bangunan roboh. Situasi yang sama terjadi juga di Meksiko saat gempa bermagnitudo 7,5 mengguncang negeri Sombrero tersebut.

Sekali lagi, kita berduka sedalam-dalamnya untuk gempa di Mamuju dan Majene. Sembari berikhtiar dan membantu para korban bencana, saatnya lebih keras menemukan hikmah, mengambil nasihat agar korban tak lagi berjatuhan saban ada bencana.

Seperti moto Sulbar dari bahasa Mandar, Mellete Diatonganan yang berarti 'meniti pada kebenaran', begitu pulalah kebenaran Tuhan melalui sunatullah di negeri bencana.
 

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait