koronacovid-19

Dua Kelompok yang Masih Anggap Covid-19 Tak Nyata

Dua Kelompok yang Masih Anggap Covid-19 Tak Nyata
Ilustrasi. Kelompok usia 17 hingga 29 tahun termasuk kelompok yang tidak meyakini adanya covid. (Foto: Antara/Audy Alwi)


Jakarta (Lampost.co) -- Virus korona (covid-19) yang hampir setahun mewabah di seluruh dunia masih dianggap tidak nyata oleh sebagian orang. Padahal, sudah banyak orang yang terpapar, bahkan kehilangan nyawa akibat virus covid-19.

 

Menurut pengajar KSM Psikiatri FKUI/RSCM Psikiatri Komunitas dr Hervita Diatri, terdapat dua kelompok yang meyakini covid-19 tidak nyata dan merasa dirinya tidak akan tertular.

 

Kelompok pertama, ialah kelompok usia 17 hingga 29 tahun. Kelompok kedua, yaitu kelompok ekonomi dan pendidikan rendah.

Hervita menilai hal tersebut disebabkan kendala penyampaian informasi dan edukasi yang belum langsung diterima kelompok tersebut. Penyampaian informasi dan edukasi perlu disesuaikan dengan gaya bahasa kedua kelompok itu.

Untuk kelompok ekonomi dan pendidikan rendah, Hervita menilai perlu sosok atau tokoh yang sangat dekat dengan mereka untuk menyampaikan edukasi dan informasi soal pencegahan dan penanganan covid-19 sesuai dengan gaya bahasanya. Misal, tokoh agama dan tokoh masyarakat yang disegani.

"Jadi, materinya perlu disediakan supaya bisa menyampaikan dengan benar," ujar Hervita, pada channel YouTube BNPB Indonesia.

Sementara, bagi kelompok usia 17 hingga 29 tahun perlu diberikan edukasi secara berkala. Materi penyampaian edukasi harus disesuaikan dengan gaya dan selera mereka. Salah satu caranya dengan menggunakan grafik yang menarik dan mudah dipahami.

"Usia 17 hingga 29 tahun cukup melek terhadap teknologi," ujar Hervita.

Untuk mencegah penularan covid-19, pemerintah melalui #satgascovid19 tak bosan-bosannya mengampanyekan #ingatpesanibu. Jangan lupa selalu menerapkan 3M, yakni #pakaimasker, #jagajarak dan #jagajarakhindarikerumunan, serta #cucitangan dan #cucitanganpakaisabun.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait