#kemenag#haji

Dua Aturan Baru Konsumsi Haji 2022

Dua Aturan Baru Konsumsi Haji 2022
Petugas Garuda Indonesia menunjukkan paket makanan untuk jemaah calon haji selama penerbangan. Antara/Irsan Mulyadi


Jakarta (Lampost.co) -- Sejumlah hal dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) RI guna memanjakan Jemaah Calon Haji (JCH) selama mereka berada di Tanah Suci. Salah satunya, soal perubahan penyaluran konsumsi untuk JCH selama berada di Makkah maupun Madinah.


Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Bina Petugas Haji Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah PHU) Kemenag, Suviyanto mengatakan, ada dua kebijakan baru terkait konsumsi yang diterapkan di musim haji tahun ini.

"Sehingga berbeda dengan musim haji sebelumnya," kata Suviyanto, ditemui di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat, 17 Juni 2022.

Berikut dua kebijakan baru soal konsumsi jemaah haji 2022;

1. Jumlah makan harian bertambah

JCH Indonesia akan mendapat katering nasi dan lauk pauk sebanyak tiga kali, yakni pagi, siang, dan malam.

Menurut Suviyanto, Kebijakan ini diambil agar kondisi fisik jemaah makin prima, terutama karena musim haji 2022 masih dalam kondisi pandemi covid-19.

"Pada tahun lalu, jemaah hanya mendapat makanan nasi pada siang dan malam, sementara paginya mendapat roti dan buah," terang Suviyanto.

Jemaah haji yang berada di Makkah selama 25 hari akan mendapatkan 75 kali makan. Begitu juga selama di Madinah, JCH akan mendapatkan tiga kali makan.

Makanan tersebut terdiri dari nasi (nasi putih atau nasi kuning) yang dilengkapi lauk berupa ayam, daging, atau telur. Kemudian hidangan penutup berupa buah maupun minuman.

2. Makanan cepat saji di Armuzna

Tidak cuma katering harian, JCH 2022 juga akan mendapatkan jatah tambahan makanan untuk bekal saat berkegiatan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Bekal tersebut berupa makanan siap saji yang diberikan dua hari jelang keberangkatan, dan dua hari setelah kepulangan ke hotel.

"Kebijakan baru ini merupakan evaluasi musim haji sebelumnya karena jemaah cukup sulit mendapat makanan di lokasi Armuzna," kata Suviyanto.

Dia mengatakan, makanan cepat saji ini menyerupai ransum dengan proses penyajiannya yang bisa dengan cepat sehingga memudahkan jemaah.

"Musim haji sebelumnya tidak ada. Jemaah mencari sendiri kebutuhan makanan tersebut," pungkas dia.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait