#Kesehatan#VisruKorona

Drama Corona

( kata)
Drama Corona
Ilustrasi anggaran pemulihan ekonomi RI - - Foto : Medcom

PENANGANAN pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) di negeri ini memasuki babak baru. Anak-anak bangsa yang terpapar wabah sudah menyentuh 93.657 orang per Kamis (23/7), lebih tinggi dari Tiongkok, yakni 85.314, pada awal pekan. Padahal Negeri Panda itu, tempat asal virus berkembang biak. Virus corona membuat perekonomian dunia lumpuh. Dahsyatnya!

Indonesia mau tidak tinggal diam. Seiring masih tingginya jumlah pasien corona, awal pekan ini, pemerintah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Tidak tanggung-tangung, Presiden Jokowi menerbitkan peraturan–menunjuk Menko Perekonomian sebagai koordinator, dan Menneg BUMN Erick Thohir menjadi ketua pelaksana.

Erick ditugasi mengoordinasikan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang dipimpin Doni Monardo dan Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Nasional yang dinakhodai Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin. Langkah majunya adalah wabah yang mematikan itu segera musnah dari bumi ini.

Penanganan wabah corona belajar dari banyak negara di dunia. Mayoritas negara maju mementingkan penanganan kesehatan ketimbang ekonomi. Akibatnya, ekonomi terjun bebas karena rakyat sakit. Persoalan Covid-19 tidak bisa dipisahkan antara kesehatan dan ekonomi. Banyak perusahaan tidak mampu lagi membayar gaji karyawannya.

Virus yang menjalar ke mana-mana itu mematikan usaha sehingga terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Rakyat kehilangan pendapatan. Tanpa pendapatan, kemampuan memperoleh makanan bergizi juga berkurang. Ini memengaruhi imunitas. Tanpa pekerjaan, orang juga akan depresi dan panik sehingga berdampak pada penurunan imunitas tubuh.

Virus PHK secara psikis membuat rakyat tidak memiliki harapan hidup. Jika anak bangsa tidak diselamatkan, ia terjebak dalam situasi kegalauan tingkat tinggi. Bisa gila. Ingat! Orang lapar mudah sekali menjadi marah. Dia akan hidup nekat daripada mati kelaparan.

Dengan dibentuknya Komite Pemulihan Ekonomi Nasional, diharapkan ada orang yang diserahi tanggung jawab memikirkan perekonomian rakyat bisa kembali digerakkan. Akan tumbuh juga lapangan pekerjaan baru karena bisa membangkitkan semangat hidup.

Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang dibentuk Presiden itu juga memastikan ketersediaan alat kesehatan, pengembangan vaksin, obat, antibodi, dan program perekonomian berkelanjutan. Mengapa Jokowi menerbitkan peraturan yang melibatkan lintas sektor baru?

Penyebabnya adalah salah satu dari hasil perhitungan Probabilistic Data Driven Model Covid-19 Indonesia. Diprediksi, puncak pandemi terjadi akhir Juli hingga akhir Agustus 2020. Dan wabah ini akan berakhir pada Februari 2021 dengan estimasi kasus positif menjadi 227 ribu pasien.

Maka itu, perlu komite penanganan Covid-19 sehingga protokol kesehatan seperti mulai dari cuci tangan, penggunaan masker, jaga jarak, lebih masif lagi. Protokol itu juga tidak meninggalkan surveilans, tes, lacak, kontak, dan isolasi bagi masyarakat yang terpapar virus corona.

Yang jelas, berakhirnya pandemi yang mendunia itu bergantung kepada kebijakan pemerintah dan kedisiplinan rakyat dalam mematuhi protokol kesehatan di era new normal. Ketegasan dan teladan adalah sikap yang ampuh menegakan peraturan! Sehingga rakyat mengikutinya.

***

Belakangan, kenormalan baru terasa hambar karena rakyat menganggap kehidupan ini seperti sebelum pandemi, tanpa memaknai arti kata new (baru). Akibatnya, Covid-19 memunculkan klaster baru lagi seperti terjadi di pasar tradisional, pondok pesantren hingga lembaga pendidikan.

Itu mengapa seperti Gubernur Lampung Arinal Djunaidi akan menerbitkan peraturan yang tegas agar Covid-19 tidak meluas–dengan menerapkan protokol kesehatan bersama segala sanksinya. Peraturan yang diterbitkan daerah itu, ternyata juga didukung Presiden dengan mengeluarkan semacam instruksi hukuman bagi pelanggar protokol kesehatan.

Dan paling melegakan pekan ini, Indonesia memasok vaksin Covid-19 dari Tiongkok, serta mengembangkan sendiri dari anak bangsa, sehingga akan lebih mudah menangkal virus. Vaksin Merah Putih dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Sedangkan dari luar negeri hasil kerja sama PT Bio Farma dan perusahaan farmasi Tiongkok (Sinovac).

Dengan begitu, negara hadir memastikan rakyatnya sehat. Indonesia akan menggelontorkan uang puluhan triliun untuk membeli vaksin. Proyekkah? Pastilah proyek. Negeri berpenduduk 260 juta jiwa ini, jika 70% (170 juta jiwa) bebas virus,  diperlukan vaksinasi secara serentak.

Hitung-hitung di atas kertas, 170 juta jiwa yang divaksinasi dengan asumsi satu warga menjalani dua kali vaksinasi, maka dibutuhkan 350 juta dosis dengan harga normal per dosis 1 dolar AS. Di masa wabah ini, harga vaksin naik tajam hingga 10 dolar AS atau Rp150 ribu. Negara harus merogoh Rp52 triliun demi mengimpor vaksin dari Tiongkok. Luar biasa, kawan!

Sudah biayanya selangit, pasokan vaksin akan menjadi kendala. Mengapa? Karena produsen luar negeri belum tentu sanggup memasok ratusan juta dosis dalam waktu singkat. Bagaimana nasib vaksin produksi Merah Putih? Karya anak bangsa melalui PT Bio Farma itu tengah melakukan uji klinis vaksin yang juga kerja sama dengan perusahaan Tiongkok, Sinovac.

Indonesia membutuhkan waktu lama menyelesaikan vaksinasi 70% anak bangsa ini jika vaksinnya impor! Apa solusinya sembari menunggu vaksin yang diproduksi 2021? Rakyat harus mematuhi protokol kesehatan. Vaksin yang menguras triliunan rupiah itu tidak akan ada artinya jika rakyat tidak membantu menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker.

Adakah cara mudah agar rakyat sehat dengan biaya murah? Kampanye minum jamu sehat perlu dimasifkan lagi. Dari hasil survei, sebagian besar rakyat sering minum jamu pasca Covid-19. Mereka banyak mengonsumsi jahe, kunyit, serai, temulawak, dan kayu manis buatan sendiri. Indonesia ini kaya raya dengan tanaman herbal untuk membuat tubuh menjadi kebal.

Lalu ada putra terbaik bangsa ini mengadakan riset antibodi Covid-19. Dia menemukan ramuan herbal yang dinilai ampuh menghadang virus corona. Hadi Pranoto, sang profesor, membuktikan kepada dunia jika putra-putri Indonesia mampu menghasilkan ramuan herbal berbahan baku alami yang bermanfaat bagi pasien Covid-19.

Saatnya berlomba-lomba menghasilkan vaksin, minuman herbal, serta jamu antibodi. Ini adalah kerja ceras agar Indonesia segera mengakhiri pandemi corona. Tekadnya membangun ekonomi kembali karena rakyat sudah sehat. Ingat! Jangan mau terpuruk hanya karena wabah. ***

EDITOR

Abdul Gafur

loading...

Berita Terkait

Komentar