#grondkaart#ptkai#sengketatanah#beritalampung

DPD RI Advokasi Masyarakat Soal Grongkaart PT KAI

DPD RI Advokasi Masyarakat Soal Grongkaart PT KAI
Anggota DPD RI asal Lampung, Andi Surya. Foto: Dok


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI akan mengadvokasi permasalahan sengketa tanah yang dihadapi masyarakat. Upaya yang dilakukan lembaga legislatif itu akan dihadapi PT KAI Divisi Regional Tanjungkarang yang dinilai sebagai pemilik sah lahan dengan kepemilikan grondkaart sebagai landasan bukti yang kuatnya.

Anggota DPD RI asal Lampung, Andi Surya menjelaskan saat ini kami tengah mengadvokasi warga Lampung yang lahannya sedang bersengketa dengan PT KAI dari Bandar Lampung hingga Way Kanan. Terdapat ratusan tibu warga yang didampinginya dengan penempatan lahan sekitar 4000 hektare.

Pendampingan itu dengan dasar Undang-undang Pokok Agraria Nomor 5 tahun 60 terkait hak lahan yang harus dikonversi. Namun, dalam peraturan itu dasad dari grondkaart yang diakui PT KAI tidak masuk dalam kategori hak yang harus dikonversi. Sementara UU Perkeretaapian pun jelas mengatur lahan yang dimiliki PT KAI.

"Dalam aturannya, lahan KAI itu hanya 6 meter kiri dan kanan saja. Artinya, dari mana dasarnya lahan diatas 6 meter itu disebut milik PT KAI. Apalagi grondkaart itu produk Belanda dan hanya gambar situasi saja," kata Andi kepada Lampost.co, Rabu (3/10/2018).

Menurutnya, berdasarkan hasil kajian timnya, KAI itu tidak memiliki berkas asli grondkaart, karena fisiknya hanya ada di Belanda dan grondkaart juga tidak termasuk kedalam catatan Kementerian Keuangan. Dari Kementerian Perhubungan pun tidak ada penyerahan surat menyurat lahan PT KAI pada grondkaart.

"Untuk itu kami sedang mengadvokasi ke pemerintah pusat agar grondkaart itu diserahkan ke rakyat, karena bukan status hak dan bukan suatu landasan untuk mengklaim lahan dipinggiran itu milik PT KAI. Dalam UU juga diamanatkan jika demi masyarakat tanah dan air itu digunakan untuk rakyat. Untuk itu dikembalikan saja ke rakyat," ujarnya.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait