#omicron#refleksi

Dosis Ketiga

Dosis Ketiga
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


DUNIA benar-benar belum bebas dari virus corona. Setelah varian baru bernama delta plus meluluhlantakkan kehidupan manusia, kini datang lagi yang namanya omikron. Virus jenis baru itu menjalar hampir ke seluruh dunia. Indonesia pun tidak luput dari incaran omikron. Jakarta saja sudah menemukan kasus tersebut. Waspadalah, karena penderita bertambah.


Amerika, Inggris, Prancis, dan Australia mengumumkan rekor tertinggi kasus harian Covid-19 jenis omikron ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan penyebaran omikron meningkatkan risiko munculnya varian baru dan berbahaya. Bahkan, negara Tiongkok kembali mengunci Kota Yuzhou, karena sudah ditemukan tiga kasus tanpa gejala.

Akibatnya, semua layanan transportasi darat serta udara dihentikan di kota tersebut. Lalu, Tiongkok juga menutup pusat perbelanjaan, museum, dan destinasi wisata. Di Indonesia, walaupun kasus omikron sudah ada 152, enam orang di antaranya dari nonpelaku perjalanan luar negeri, harus tetap waspada. Semua pintu masuk–kedatangan dari luar negeri dijaga berlapis.

Penambahan kasus konfirmasi omikron di Indonesia didominasi warga negara Indonesia (WNI) yang baru kembali dari luar negeri. Sebagian besar kondisinya bergejala ringan dan tanpa gejala. Gejala paling banyak adalah batuk (49%) dan pilek (27%). Omikron memiliki tingkat penularan lebih cepat dibandingkan varian delta plus.

Sejak ditemukan pertama kali pada 24 November 2021 di Afrika Selatan, kini omikron telah terdeteksi di lebih dari 110 negara dan diperkirakan akan terus meluas. Semua saling menjaga dan mengingatkan. Indonesia tidak mau mengulangi sejarah kelam pada Juni 2021.

Tiap hari, ratusan nyawa anak bangsa hilang. Harganya sangat murah sekali. Belum habis serial cerita omikron, kini dihebohkan muncul varian baru bernama IHU B.1.640 dari Prancis. Hasil penelitian ilmuwan negara itu, ternyata varian baru ini bermutasi lebih banyak dibanding omikron.

Tidak ada pilihan lain kecuali tetap menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat termasuk pembelajaran tatap muka (PTM) sekolah. Memasuki tahun ketiga pandemi ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) memulai PTM dengan kapasitas 100% awal Januari ini untuk semua jenjang pendidikan.

Belakangan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Dinas Pendidikan dan Kantor Kemenag di seluruh Indonesia menunda PTM bagi tingkat TK dan SD. Pasalnya cakupan vaksinasi dosis dua pada anak masih belum memadai. Permintaan ini sangat wajar karena masih tingginya risiko penyebaran Covid-19.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza dalam keterangannya, Rabu (5/1), pemerintah perlu mengkaji ulang pelaksanaan PTM 100% yang mulai diberlakukan. Yang jelas, perlu diterapkan secara bertahap seperti  tahun lalu yang disertai protokol kesehatan. Orang tua dan siswa juga dapat memilih untuk mengikuti pembelajaran secara daring untuk menjamin keamanan kesehatan anak bangsa.

Pertimbangan lainnya, kata Nadia, adalah karena vaksinasi guru dan tenaga kependidikan serta peserta didik juga belum terlaksana secara merata dan penuh dua kali vaksinasi. Belum lagi pengalaman tahun lalu, bahwa setelah libur panjang di akhir tahun akan terjadi tren kenaikan kasus.

***

Dalam survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta terungkap masih banyak siswa yang tidak mematuhi protokol kesehatan selama pandemi. Ketaatan paling dilanggar adalah menghindari berkumpul sebanyak 64%, menjaga jarak 42%, mencuci tangan 41%, dan memakai masker 20,10%. Ini artinya, siswa masih abai.

Hasil survei yang diikuti 2.308 siswa SLTA se-Indonesia itu menyebutkan kegiatan siswa di bawah naungan Kemendikbudristek selalu memakai masker sebanyak 51,2%. Sedangkan di Kementerian Agama (39,3%). Pada masa pandemi, 72% siswa mengurangi olahraga. Padahal olahraga menjadi salah satu kegiatan yang amat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang Covid-19.

Dalam berbagai sumber, selama dua tahun pandemi, lebih 275 juta kasus teridentifikasi pada 220 negara, dengan jumlah kematian melebihi 5,5 juta orang. Rata-rata setiap hari terdeteksi 377 ribu kasus dan 7.500 kematian. Ini beban yang sangat besar bagi dunia. Saat ini, tingkat kefatalan Covid berkisar 2%, artinya dari 100 orang terinfeksi, dua orang meninggal. Tingkat kefatalan ini jauh lebih rendah daripada beberapa penyakit lain.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan hasil penelitian sementara dari berbagai negara, terungkap omikron kebal terhadap antibodi yang dibentuk baik dari virus maupun vaksin. Ada bukti reinfeksi yang ditemukan dalam kasus tersebut.

Anak negeri harus sehat! Maka itu Presiden Joko Widodo menginstruksikan jajaran menteri memulai pelaksanaan vaksinasi Covid-19 booster atau dosis penguat antibodi mulai Januari 2022. Pemberian booster melindungi rakyat dari varian omikron, yang sudah menyebar ke sejumlah negara di dunia.

Pemberian vaksin booster menghasilkan 75% efektivitas vaksin terhadap serangan omikron. Amerika adalah negara pertama melakukan booster yang dilakukan terhadap warga berumur 16 tahun atau lebih. Israel bahkan sebelum Natal juga mengumumkan memberikan vaksin keempat kepada warga berumur 60 tahun lebih.

Luar negeri sigap. Negeri ini pun harus sigap juga. Tapi vaksin kali ini berbayar. Cukup merogoh isi kocek Rp300 ribu per orang. Negara hanya menanggung biaya bagi penerima Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ingat! Vaksinasi merupakan wujud komitmen negara dalam melindungi  rakyat tanpa kecuali.

Langkah itu sangat penting untuk melindungi rakyat dari bahaya Covid-19. Ingat, virus tidak mengenal jenis kelamin dan usia. Virus juga menggerogoti tubuh berimun lemah. Siapa yang mendapat prioritas booster?

Yang pertama adalah warga berumur 60 tahun atau lebih. Kelompok ini atau lansia rentan kematian bila terinfeksi corona. Kedua, anak berumur 6—11 tahun. Begitu pun dengan diizinkannya vaksin booster, negara haruslah melibatkan partisipasi aktif dari semua kalangan. Jika tidak berbagi peran, akan terjadi kesenjangan antara wilayah di negeri ini.

Mengatasi pandemi sangat tergantung pada meratanya vaksinasi di seluruh daerah. Bukan hanya ketersediaan vaksin, tetapi juga infrastruktur, logistik pendukung, dan sumber daya manusia yang mampu menjangkau wilayah Indonesia. Para pekerja dan keluarga ditanggung perusahaan–tempat ia bekerja agar mengalokasikan dana untuk membiayai vaksin booster. ***

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait