#penipuan#ijazahpalsu

Dosen di Metro Didakwa Jual Beli Ijazah Palsu 

Dosen di Metro Didakwa Jual Beli Ijazah Palsu 
lustrasi pemalsuan ijazah. MI/Agus Utantoro


Metro (Lampost.co) -- Oknum dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Metro didakwa memalsukan ijazah S-1 Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU). Warga Perumnas 24 Tejo Agung, Metro Timur, itu membuat dan menjualnya kepada Joko Sumarno, warga Gedung Makripat Hulu, Sungkai Utara, Lampung Utara (Lampura) seharga 15 juta.

Dalam sidang, Jaksa Kejaksaan Negeri (Kejari) Metro Pertiwi Setiyoningrum hanya menuntut 10 bulan penjara. Meskipun pasal yang disangkakan mematok hukuman maksimal lima dan enam tahun, namun jaksa berpandang lain, yakni kerugian transaksi sangat kecil.

Terkait hal itu, Rektor IAIM NU Metro, Mispani mengaku kecewa. Dia menilai tuntutan jaksa terlalu ringan sehingga melukai rasa keadilan. Perbuatan terdakwa telah mencemarkan nama baik dan meruntuhkan marwah perguruan tinggi yang dipimpinnya. Ditambah lagi, terdakwa seorang akademisi dan aparatur sipil negara (ASN) yang harus menjadi teladan bagi penegakan hukum.

Mispani meminta kepada jaksa mengembangkan kasus pemalsuan ijazah itu ke sejumlah pihak yang terlibat. Sebab, dalam penyidikan didapati bukti adanya pihak membantu mempromosikan menjual ijazah palsu dan mendapatkan bagian dari hasil penjulan.  

“Patut diduga bahwa perbuatan terdakwa dilakukan secara terencana dan berpotensi menjadi sebuah sindikat pemalsuan ijazah,” tegas dia, Minggu, 9 Mei 2021. 

Baca: Letkol TNI Gadungan yang Ditangkap Ternyata Seorang Dosen

 

Untuk diketahui, ada dua aturan yang dipersangkkan pada terdakwa. Yakni Pasal 263 KUHP memberi ruang tuntutan hingga enam tahun penjara. Kemudian UU No. 20 tentang Sisdiknas lima tahun penjara atau denda Rp500 juta.

Terdakwa dinyatakan mampu membuat korban tertarik karena untuk mendapatkan bukti penyelesaian perkuliahan itu sangat mudah. Berdasarkan Whatsapp Sukatam, rekan terdakwa,  pada 8 Juli 2020, korban tidak perlu mengikuti perkuliahan. Tinggal menyerahkan uang sejumlah yang ditawarkan korban bisa ikut wisuda. 

Namun, ketika korban konfirmasi tentang kebenaran ijazah itu kepada Wakil Rektor 1 IAIM-NU, Agus Setiawan, justru mendapatkan keterangan bahwa bukti penyelesaian pendidikan itu palsu. Bahkan, pimpinan kampus kemudian melacak dan mengumpulkan berbagai informasi untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait