nuansaviruskorona

Doa dan Masker

( kata)
Doa dan Masker
Ilustrasi Pixabay.com

Mustaan Basran

Wartawan Lampung Post

PANDEMI virus korona alias Covid-19 yang belum juga reda membuat semua warga diminta waspada dan mengantisipasinya. Salah satunya dengan lebih banyak tinggal di rumah jika tidak ada sesuai yang sangat penting.

Istilahnya, dimulai dari sosial distancing atau menjaga jarak sosial, kemudian physical distancing (jaga jarak fisik), hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Namun, intinya dari tiga istilah pembatasan itu imbauannya menggunakan masker penutup mulut dan hidung jika Anda ke luar rumah.

Dampak dari tiga istilah itu juga menjangkau masyarakat lapisan bawah untuk tidak pulang kampung alias mudik, termasuk juga seperti asisten rumah tangga (ART) atau babu seperti Kacung dan Inem yang dilarang mudik oleh majikannya.

“Dilarang mudik, tapi mbok yo onopenggantian uangnya,” cetus Inem saat mengeluh dengan koleganya, Kacung, di teras belakang rumah majikannya. “Ini kerjaan makin banyak di rumah, semuanya harus ini-harus itu.”

Kacung pun berusaha menenangkan Inem, “Adulah, Nem, sai sabakh gawoh. Yang penting kita juga dijamin keselamatannya. Itu masker bertumpuk untuk kita.”

Tak kurang suara Inem menjawab pernyataan Kacung. “Lah, masker itu untuk keluar rumah. Cuma dipakai kalau belanja di tukang sayur dan gitu dilepas waktu masuk rumah,” kata Inem. “Ora butuh akeh, Bang!

“Intinya berdoa saja, Nem. Kita selamat dari wabah ini. Gaji kita tidak dikurangi dan ada tambahan ongkos berkabar ke kampung,” ujar Kacung. “Jangan sampai kita lupa dengan doa. Sebab, itu yang paling bisa membuat kita bertahan di keadaan ini.”

“Ya, Bang, berdoa. Tapi, kok cuma Abang yang ngajak berdoa ya di wabah ini. Apa karena kita senasib-sepenanggungan,” jawab Inem. “Liat saja mereka yang elite-elite itu, urusane gur iki ojo-iku ojo. Kalau enggak boleh semua, lah bolehnya apa. Coba ajak berdoa memohon pada Gusti Allah.”

“Yah, Nem, mungkin sangka mereka berdoa itu urusan pribadi. Tapi, kalau pribadi-pribadi itu lupa berdoa, akhir tidak ada yang berdoa. Na layau ana,” kata Kacung. “Masa kita cuma mengandalkan masker saja untuk menghadapi wabah ini, sangkanya kekuatan masker melebihi kekuatan doa apa??”

“Ya itulah, Bang. Kalau Abang yang ajak saya, oke saja. Tapi, kalau masyarakat yang diajak berdoa itu, ya harus orang-orang besar yang katanya punya kekuatan yang ngajak. Baru didengarkan,” Inem mendukung pernyataan kawannya. “Tapi ya ayolah, Bang, dimulai dari kita berdoa.”

Kacung pun menengadahkan tangannya. “Ya Allahu Rabbi, usir wabah ini dari negeri kami dan dari dunia. Agar setiap rencana ibadah kami ke depan dapat terlaksana dan tidak terhambat-hambat wabah. Amin…”

EDITOR

Bambang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar